Penyair Terkenal Indonesia, Sapardi Djoko Damono
1.
Sapardi
djoko damono
Siapa yang tak kenal Bapak Hujan Bulan Juni.
Puisi-puisinya begitu mampu mendaraskan rindu dan cinta yang tulus terhadap hal
apa pun. Diksi-diksi yang tepat selalu ‘dipasang’ sastrawan kelahiran
Surakarta, 20 Maret 1940 ini di setiap sajaknya. Lirik per lirik tampak
sederhana, tapi mengandung makna yang dalam. “Hujan Bulan Juni” dan “Aku Ingin”
adalah karya monumentalnya. Bahkan, Hujan Bulan Juni dikembangkan menjadi
novel, komik, bahkan akan jadi film. Kini, Sapardi masih aktif mengajar program
pascasarjana di Universitas Indonesia jurusan sastra.
Karyanya:
Hujan Bulan Juni
tak
ada yang lebih tabah
dari
hujan bulan Juni
dirahasiakannya
rintik rindunya
kepada
pohon berbunga itu
tak
ada yang lebih bijak
dari
hujan bulan Juni
dihapusnya
jejak-jejak kakinya
yang
ragu-ragu di jalan itu
tak
ada yang lebih arif
dari
hujan bulan Juni
dibiarkannya
yang tak terucapkan
diserap
akar pohon bunga itu”
Berdasarkan bedah Puisi “Hujan Bulan Juni”
Sapardi Djoko Damono, makna puisi itu lebih banyak berkaitan dengan ketabahan
dan kesabaran sebuah kasih sayang.
Pada larik kata “Tidak ada yang lebih
tabah dari hujan bulan juni,” Sapardi menggambarkan hujan sebagai kasih sayang.
Sedangkan melalui kata itu, dia ingin menggambarkan soal ketabahan atau
kesabaran dari hujan tidak turun ke bumi pada Bulan Juni. Dalam kalender
tahunan, Juni pada umumnya digambarkan sudah masuk musim kemarau sehingga
mustahil hujan turun di bulan itu, sehingga mengandung makna tentang ketabahan,
kesabaran seseorang untuk tidak menyampaikan sayang dan rindunya pada orang
yang dicintainya.
Sedangkan, larik “Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni” digunakan Sapardi untuk menggambarkan bahwa dia mampu
dengan ketabahannya menahan tidak menyampaikan sayang juga rindunya.
Sementara larik, “Dihapusnya jejak jejak
kakinya yang ragu-ragu di jalan itu” menggambarkan Sapardi ingin menghapus
keraguan, prasangka jelek yang hinggap di hatinya dalam menanti orang yang
dicintainya.
Ada pun, pada larik “Tak ada yang lebih
arif dari hujan bulan Juni” Sapardi ingin menggambarkan dia pandai menyimpan,
menyembunyikan rasa sayangnya, rindunya pada orang yang dia cintai.
Komentar
Posting Komentar