Pengertian Wanita Terdidik, Wanita Modern dalam Cerpen Mimpi Dan Kebebasan Karya Erlina Rakhmawati

Kehadiran pendidikan bagi kaum wanita menimbulkan argumen dari konteks metropolitan dan konteks kolonial. Menurutnya, pendidikan wanita akan menghasilkan para perempuan terdidik sebagai isteri dan ibu yang baik. Bersamaan dengan itu, mereka juga diingatkan untuk tidak melawan otoritas kaum pria. (Loomba, 2003:281). Secara kontras wanita sibedakan dalam wanita terdidik dan wanita urakan. Gouda(1995), memberikan contoh model pendidikan bagi kaum wanita ningrat. Beberapa ningrat memutuskan untuk memaksimalkan pendidikan para putrinya dengan memanggil para guru Belanda. Model pendidikan ini berupaya untuk menjauhkan para gadis priyayi dari pengaruh budaya kolonialisme. Seorang guru Belanda mengangkat harkat gadis priyayi tersebut dengan menjadikannya tetap seorang pribumi (Hatley, 2006:200). 

Pendidikan kemudian dipilih oleh tokoh Romo pada anaknya bukan seperti model di atas. Cukup bebas dengan memilihkan di sekolah umum milk Belanda. Langkah yang diambil memang beresiko besar terhadap anak-anaknya, terutama bagi Ratna terhadap kehidupan sosial. Akhirnya, ambivalensi yang dibawa oleh kolonialisme seperti diungkapkan sebelumnya mempengaruhi pribadi Ratna. 8 Terdapat sesuatu yang berbeda pada diriku dari gadis-gadis Jawa lain. Bukan hanya karena ku sempat mengenyam pendidikan, tetapi juga karena pemikiranku yang begitu kebarat-baratan, maksudku aku mempercayai pemikiran orang-orang Eropa pada saat itu. Walau aku membenci para serdadu Belanda yang sudah menjajah Negriku, juga benci pada Kepala Kementrian yang sudah membunuh kedua kakakku, tetapi aku menganggap mereka benar dalam rumusannya mengenai kebebasan atau „Liberalisme‟. Hatley, berpendapat adanya imaji yang ambivalen terhadap representasi wanita modern yang kebarat-baratan. Termasuk pandangan akan pengagungan pascakolonial, menjadikan wanita-wanita sebagai ikon tradisi dan budaya(Hatley, 2006:189). 

Ambivalensi wanita modern ala Hatley, memandang perilaku Ratna yang Jawa, tapi percaya akan paham Liberalime barat. Disamping, ambivalensi kebencian pada Belanda. Ia ingin mengkonfirmasi paham itu pada kesalahan yang dilakukan Belanda lewat kematian kedua kakaknya. Lewat penyerangan secara halus. Ambivalensi Ratna atas pengaruh budaya Barat juga secara manusiawi dilakukan. Sepeti pada kutipan di bawah ini. Senang rasanya melihat gadis-gadis Eropa yang begitu dihargai dalam kaumnya, tidak seperti para gadis Jawa yang hanya melakukan kegiatan rumah tangga dan „dipingit‟ jika saat akan menikah. Seperti aku senang menggerai rambutku dan jika kau tahu bahwa aku tidak terlalu suka memakai pakaian adat yang begitu menyesakkan bagiku. Tapi aku melakukannya dengan diam-diam dan lebih sering mengembangkan intuisiku dalam benak juga pikiranku, karena aku tidak ingin mengecewakan Romo. Aku tumbuh menjadi gadis yang pemberani, terutama pada keputusanku sendiri. Kesukaan Ratna akan kebiasaan wanita Eropa dianggap sebagai bentuk manusiawi. „Moderenitas‟ wanita Eropa yang telah mapan terkait hubungan gender masyarakatnya. Bagi beberapa kalangan melancarkan kritik pada para feminis, karena hal itu merupakan ancaman terhadap ketertiban sosial(Hatley, 2006:193). 

Wanita modern terpengaruh barat, tampak sebagai figur wanita progresif. Wanita yang berpendidikan dan dipengaruhi Barat dengan kualitas yang diharapkan wanita dan istri Indonesia (2006:198). Ratna sebagai gadis priyayi yang ingin mulai meniggalkan kebiasaan (pakaian) dan pemikiran pribumi merupakan ancaman dekulturisasi. Paham kolonialisme mencoba mereformasi perempuan lewat pendidikan, sedangkan nasionalis memperkuat posisi wanita dengan pendidikan khusus wanita agar 9 mereka disiapkan menjadi istri dan ibu yang baik(Loomba, 2003:281). Ini yang tidak sempat didapatkan oleh Ratna tentang pendidikan khusus wanita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Karya Amir Hamzah Berjudul "Padamu Jua"

Analisis Iklan Air Mineral "Aqua" Pada Televisi

Analisis Puisi Berjudul "Serenada Hijau" Karya W.S Rendra