Membaca Sintopis Pembelajaran Unsur Intrinsik Genre Sastra Novel karya Fahryan Andria Putra

 

Judul: Pembelajaran Unsur Intrinsik Genre Sastra Novel

Kerangka:

1.      Pengertian Pembelajaran

2.      Pengertian Novel

3.      Unsur Intrinsik Novel

 


1.      Tahap Persiapan

a.      Menulis Bibliografi

Darmawati, Uti. 2018. Prosa Fiksi Pengetahuan dan Apresiasi. Klaten: Intan Pariwara.

Aziez, F dan Abdul Hasim. 2012. Analisis Fiksi. Jakarta: Multikreasi Satudelapan

Fakhrurrazi. 2018. “Hakikat Pembelajaran yang Efektif”. Jurnal Al-Tafkir, Vol. 11, No. 1.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Sayuti, Suminto A. 2017. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Cantrik Pustaka

Yanti, Citra Salda. 2015. “Religiositas Islam dalam Novel Ratu yang Bersujud Karya Amrizal Mochamad Mahdavi”. Jurnal Humanika, Vol. 3, No. 15.

b.      Membaca Inspeksional

Sumber 1: membaca halaman 17

Sumber 2: membaca halaman 7-8, 44,55

Sumber 3: membaca halaman 85

Sumber 4: halaman 11-16, 113-117, 141-145, 164, 246-250, 302-303, 336-339, 364, 429.

Sumber 5: membaca halaman 57, 68-70, 101-106, 149-150, 167-189

Sumber 6: membaca halaman 3-5

2.      Tahap Membaca

a.      Membaca secara inspeksional semua sumber bacaan yang digunakan seperti pada tahap 1.b untuk menemukan bagian yang paling penting dan relevan.

Sumber 1: membaca halaman 17

Sumber 2: membaca halaman 7-8, 44,55

Sumber 3: membaca halaman 85

Sumber 4: halaman 11-16, 113-117, 141-145, 164, 246-250, 302-303, 336-339, 364, 429.

Sumber 5: membaca halaman 57, 68-70, 101-106, 149-150, 167-189

Sumber 6: membaca halaman 3-5

b.      Membawa penulis menuju masalah dengan mengkontruksi terminologi netral dari subjek.

1.      Hakikat pembelajaran

Dewanta (2019: 276) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan segala upaya yang dilakukan oleh guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa.

Fakhrurrazi (2018: 85) menyatakan bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa.

Nurgiyantoro (2019: 453) menyatakan bahwa pembelajaran adalah kunci terjadinya perubahan dan perkembangan pada diri seseorang.

 

2.      Hakikat novel

Aziez, F dan Abdul Hasim (2012: 7-8) menyatakan bahwa novel merupakan genre sastra yang memiliki bentuk utama  prosa, dengan panjang yang kurang lebih bisa untuk mengisi satu atau dua volume kecil yang menggambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup kompleks.

Nurgiyantoro (2018:5) menyatakan bahwa novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur instrinsiknya yang kesemuanya juga bersifat imajinatif. Nurgiyantoro (2018: 12) juga menyatakan bahwa novel merupakan karya fiksi yang memiliki panjang cerita yang lebih panjang dari cerpen.

Sayuti, Suminto A (2017: 56-57) menyatakan bahwa novel adalah karya fiksi yang bersifat meluas, menitikberatkan kompleksitas, memiliki cerita yang panjang.

Yanti (2015: 3) menyatakan bahwa novel merupakan buah pikiran pengarang yang sengaja direka untuk menyatakan buah pikiran atau ide, diolah penulis yang dihubungkan dengan kejadian atau peristiwa disekelilingnya, bisa juga merupakan pengalaman orang lain maupun pengalaman penulis, pola penulisan mengalir secara bebas yang tidak terikat oleh kaidah seperti yang terdapat pada puisi.

.

3.      Unsur intrinsik novel

Menurut Aziez, F dan Abdul Hasim (2012: 45), unsur intrinsik novel adalah latar, penokohan dan perwatakan, alur (plot), sudut pandang, tema, dan amanat.

Menurut Nurgiyantoro (2018: 113-429) unsur intrinsik novel meliputi tema, cerita, plot, tokoh, latar, sudut pandang, bahasa, dan moral.

Sayuti (2017: 68-199) membagi unsur pembangun fiksi (novel) menjadi 3 fakta cerita, sarana cerita, dan tema. Fakta cerita terdiri dari alur, latar, dan tokoh. Sementara itu, sarana cerita terdiri dari judul, sudut pandang, serta gaya dan nada.

Yanti (2015: 3-6) menyatakan bahwa unsur intrinsik novel meliputi tema, amanat, tokoh, penokohan, latar/setting, sudut pandang, plot/alur, dan gaya bahasa.

 

c.       Membangun serangkaian proposisi netral untuk semua penulis dengan membuat kerangka pertanyaan untuk masing masing ide.

1.      Hakikat pembelajaran

·         Benarkah hakikat pembelajaran menurut Dewanta?

·         Benarkah hakikat pembelajaran menurut Fakhrurrazi?

·         Benarkah hakikat pembelajaran menurut Nurgiyantoro?

2.      Hakikat novel

·         Apakah hakikat novel menurut Aziez, F dan Abdul Hasim sudah sesuai?

·         Apakah hakikat novel menurut Nurgiyantoro sudah sesuai?

·         Apakah hakikat novel menurut Sayuti sudah sesuai?

·         Apakah hakikat novel menurut Yanti sudah sesuai?

3.      Unsur intrinsik novel

·         Apakah sudah benar unsur intrinsik yang disebutkan Aziez, F dan Abdul Hasim?

·         Apakah sudah benar unsur intrinsik yang disebutkan Nurgiyantoro?

·         Apakah sudah benar unsur intrinsik yang disebutkan Sayuti?

·         Apakah sudah benar unsur intrinsik yang disebutkan Yanti?

 

d.      Mendefinisikan isu atau ide baik besar maupun kecil dengan beberapa pertanyaan untuk masing-masing ide. Kadang kadang isu atau ide ini tidak secara eksplisit dinyatakan dalam teks.

1.      Hakikat Pembelajaran

·         Ya, sudah benar. Dewanta menyebutkan bahwa pembelajaran merupakan segala upaya yang dilakukan oleh guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa.

·         Ya, sudah benar. Pendapat Fakhrurrazi yang menyebutkan bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Hal ini pun didiukung oleh pendapat Dewanta.

·         Ya, sudah benar. Pendapat Nurgiyantoro didukung oleh pendapat Fakhrurrazi bahwa pembelajaran adalah kunci terjadinya perubahan dan perkembangan pada siswa. Di sini perlu ditambahkan bahwa untuk mencapai perubahan dan perkembangan tersebut, maka diperlukan adanya proses, yakni proses membelajarkan siswa atau memicu terjadinya proses belajar pada diri siswa.

2.      Hakikat novel

·         Ya, sudah sesuai. Namun, terdapat sedikit kekurangan pada pendapat Aziez, F dan Abdul Hasim. Aziez, F dan Abdul Hasim menyatakan bahwa novel menggambarkan kehidupan nyata. Hal ini benar, namun hal tersebut dapat dilengkapi mengenai novel yang bersifat imajinatif. Meski novel menggambarkan kehidupan nyata, novel sebenarnya tidak benar-benar nyata tertapi bersifat imajinatif.

·         Ya, sudah sesuai. Pendapat Nurgiyantoro tentang hakikat novel sudah benar, mulai dari panjang cerita hingga isinya.

·         Ya, sudah sesuai. Pendapat Sayuti mengenai hakikat novel sudah menjelaskan mengani panjang ceritanya serta bentuknya. Namun, gambaran seperti apa isinya belum dijelaskan dalam pendapat tersebut.

·         Ya, sudah sesuai. Pendapat Yanti sedikit berbeda dengan pendapat-pendapat sebelumnya. Ia lebih menjelaskan pada aspek isi dan pola penulisannya.

3.      Unsur intrinsik novel

·         Ya, sudah benar. Pendapat Aziez, F dan Abdul Hasim mengenai unsur-unsur intrinsik dalam sebuah novel sudah benar. Hal ini juga didukung oleh pendapat-pendapat lain.

·         Ya, sudah benar. Pendapat Nurgiyantoro mengenai unsur-unsur intrinsik dalam sebuah novel sudah benar. Hal ini pun didukung oleh pendapat-pendapat lain.

·         Ya, sudah benar. Pendapat Sayuti mengenai unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam sebuah novel atau karya sastra sudah cukup lengkap.

·         Ya, sudah benar. Pendapat Yanti mengenai unsur-unsur intrinsik yang terkanding dalam sebuah novel sudah benar dan lengkap.

 

e.       Menganalisis topik dengan memberi pertanyaan dan ide dengan beberapa cara untuk mendapat keterangan yang jelas tentang materi. Ide pokok atau umum harus didahulukan dan relasi antar ide harus jelas.

1.      Hakikat pembelajaran

Persamaan

Perbedaan

Persamaan mengenai hakikat pembelajaran dapat dilihat pada hakikat pembelajaran menurut Dewanta dan Fakhrurrazi. Dewanta menyebutkan bahwa pembelajaran dilakukan agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Fakhrurazi menyebutkan bahwa pembelajaran dilakukan untuk membelajarkan siswa. Sementara pembelajaran menurut Nurgiyantoro merujuk pada tujuan pembelajaran yakni agar terjadi perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan dalam diri siswa.

 

Perbedaan mengenai hakikat pembelajaran adalah Dewanta dan Fakhrurrazi lebih menekankan pembelajaran sebagai upaya untuk membelajarkan atau mendorong proses belajar pada diri siswa. Sementara itu, Nurgiyantoro lebih menekankan pembelajaran sebagai upaya atau kunci agar terjadi perubahan dan perkembangan pada diri siswa.

Kesimpulan: Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk membelajarkan peserta didik dan mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta perubahan ke arah positif dalam dirinya

Kesimpulan: Pembelajaran lebih menekankan sebagai upaya untuk mendorong proses pada diri siswa.

 

Sumber: Darmawati, Uti. 2018. Prosa Fiksi Pengetahuan dan Apresiasi. Klaten: Intan Pariwara.

Aziez, F dan Abdul Hasim. 2012. Analisis Fiksi. Jakarta: Multikreasi Satudelapan

Fakhrurrazi. 2018. “Hakikat Pembelajaran yang Efektif”. Jurnal Al-Tafkir, Vol. 11, No. 1.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Sayuti, Suminto A. 2017. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Cantrik Pustaka

Yanti, Citra Salda. 2015. “Religiositas Islam dalam Novel Ratu yang Bersujud Karya Amrizal Mochamad Mahdavi”. Jurnal Humanika, Vol. 3, No. 15.

 

 

 

 

2.      Hakikat novel

Persamaan

Perbedaan

Persamaan mengenai hakikat novel dapat dilihat pada pendapat Aziez, F dan Abdul Hasim, Nurgiyantoro, dan Sayuti. Persamaan pada ketiga pendapat tersebut adalah pada aspek isi yang panjang, kompleks, dan luas.

Perbedaan dari keempat pendapat mengenai hakikat novel adalah pada apa yang menjadi pembahasan. Pendapat Aziez, F dan Abdul Hasim, Nurgiyantoro, dan Sayuti lebih menekankan mengenai seperti apa isi dari novel sedangkan pendapat Yanti menekankan pada bagaimana novel ditulis.

 

Kesimpulan: Novel merupakan karya sastra bentuk prosa, memiliki cerita yang panjang dan kompleks, serta memiliki pola penulisan yang mengalir, serta bersifat imajinatif. Novel biasanya menggambarkan kehidupan namun kehidupan tersebut seperti diidealkan dan bersifat imajinatif.

 

Kesimpulan: Hakikat novel lebih menekankan mengenai seperti apa isi dari novel dan bagaimana novel ditulis.

 

Sumber: Darmawati, Uti. 2018. Prosa Fiksi Pengetahuan dan Apresiasi. Klaten: Intan Pariwara.

Aziez, F dan Abdul Hasim. 2012. Analisis Fiksi. Jakarta: Multikreasi Satudelapan

Fakhrurrazi. 2018. “Hakikat Pembelajaran yang Efektif”. Jurnal Al-Tafkir, Vol. 11, No. 1.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Sayuti, Suminto A. 2017. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Cantrik Pustaka

Yanti, Citra Salda. 2015. “Religiositas Islam dalam Novel Ratu yang Bersujud Karya Amrizal Mochamad Mahdavi”. Jurnal Humanika, Vol. 3, No. 15.

 

3.      Unsur intrinsik novel

Persamaan

Perbedaan

Secara keseluruhan, persamaan dari keempat sumber adalah adanya unsur tema, tokoh dan penokohan, latar, alur/plot, dan sudut pandang. Selain itu, pada pendapat Nurgiyantoro dan Yanti, terdapat kesamaan unsur lainnya yakni bahasa.

Selain persamaan, terdapat perbedaan pada keempat sumber di atas. Nurgiyantoro dan Yanti menyebutkan unsur bahasa yang mana tidak dijumpai pada pendapat Aziez, F dan Abdul Hasim. Sementara pada pendapat Sayuti, unsur bahasa dikategorikan pada unsur gaya dan nada. Perbedaan lainnya adalah adanya unsur cerita pada pendapat Nurgiyantoro sementara tidak pada pendapat lainnya. Perbedaan lain yang dapat ditemukan adalah adanya unsur judul pada pendapat Sayuti yang mana hal ini tidak ditemukan pada pendapat lain. Selain itu adalah unsur amanat di mana pada pendapat Aziez, F dan Abdul Hasim dan Yanti menyebutkan unsur tersebut. Nurgiyantoro menyebutkan unsur moral yang jika dikaitkan pada pendapat Aziez, F dan Abdul Hasim dan Yanti merujuk pada unsur amanat.

 

Kesimpulan: Unsur intrinsik terdiri dari tema, latar, judul, alur/plot, tokoh dan penokohan, amanat/moral, sudut pandang, dan gaya bahasa. Tema merupakan pokok pikiran/gagasan dasar/dasar sebuah sebuah cerita. Latar merupakan ruang dan waktu terjadinya peristiwa dalam cerita. Judul merupakan hal pertama yang dibaca dan paling mudah dikenali pembaca. Alur/plot merupakan urutan terjadinya peristiwa dalam cerita yang memiliki hubungan kausalitas atau sebab akibat. Tokoh merupakan pelaku dalam cerita sedangkan penokohan adalah cara/teknik penulis dalam menggambarkan atau menyajikan tokohnya dalam cerita. Amanat atau moral merupakan pesan/makna yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Sudut pandang adalah cara pengarang melihat dan menampilkan pelaku dalam cerita bahkan menempatkan dirinya sendiri dalam cerita. Gaya bahasa merupakan cara khas pengarang menggunakan bahasa dalam menyampaikan ceritanya.

 

Kesimpulan: Unsur intrinsik merujuk pada unsur bahasa yang tidak dijumpai pada pendapat Aziez M dan Abdul Hasim. Kemudian pendapat Nurgiantoro menyebutkan unsur moral yang merujuk pada unsur amanat.

 

Sumber: Darmawati, Uti. 2018. Prosa Fiksi Pengetahuan dan Apresiasi. Klaten: Intan Pariwara.

Aziez, F dan Abdul Hasim. 2012. Analisis Fiksi. Jakarta: Multikreasi Satudelapan

Fakhrurrazi. 2018. “Hakikat Pembelajaran yang Efektif”. Jurnal Al-Tafkir, Vol. 11, No. 1.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.

Sayuti, Suminto A. 2017. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Cantrik Pustaka

Yanti, Citra Salda. 2015. “Religiositas Islam dalam Novel Ratu yang Bersujud Karya Amrizal Mochamad Mahdavi”. Jurnal Humanika, Vol. 3, No. 15.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Karya Amir Hamzah Berjudul "Padamu Jua"

Analisis Iklan Air Mineral "Aqua" Pada Televisi

Analisis Puisi Berjudul "Serenada Hijau" Karya W.S Rendra