Makalah Pengertian Fonologi dan Fonem

                                                                 KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul ”Pengertian Fonologi dan Fonem” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas dari dosen pada mata kuliah Fonologi. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang sejarah fonologi, pengertian fonologi, pengertian fonem serta kajian fonemik bagi peserta didik dan para pembaca.

Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Prihadi, M. Pd, selaku dosen mata kuliah Fonologi yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai bidang studi yang ditekuni.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka, saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah ini menjadi lebih baik.

Akhir kata, saya berharap makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan terhadap pembaca.

 

 

 

 

 

Yogyakarta, 23 Mei 2021

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR................................................................................................ 2

DAFTAR ISI................................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... 4

1.1  Latar Belakang........................................................................................................ 4

1.2  Rumusan Masalah................................................................................................... 5

1.3  Tujuan Pembuatan Makalah............................................................................... 5

1.4  Manfaat Manfaat yang didapat dari penulisan makalah......................................... 6

BAB II .......................................................................................................................... 7

2.1  Kajian Teori........................................................................................................... 7

2.1.1 Sejarah Fonologi.............................................................................................. 7

2.1.2 Pengertian Fonologi.......................................................................................... 8

2.1.3 Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli ............................................................ 8

2.2 Fonem...................................................................................................................... 9

2.2.1 Pengertian Fonem............................................................................................. 9

2.2.2 Kajian Fonemik................................................................................................. 10

2.2.3 Realisasi fonem.................................................................................................. 11

2.2.4 Variasi fonem..................................................................................................... 11

BAB III PENUTUP..................................................................................................... 14

3.1 KESIMPULAN..................................................................................................... 14

3.2 SARAN................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 15

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bahasa merupakan suatu sistem dari lambang bunyi yang digunakan manusia untuk melakukan komunikasi. Dengan begitu Bahasa Indonesia pada hakikatnya memiliki ruang lingkup juga tujuan yang membuat tumbuhnya kemampuan untuk dapat mengungkapkan perasaan juga pikiran dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dan benar.

Ilmu bahasa atau linguistik memiliki beberapa bidang-bidang dibawahnya. Seperti Psikologi atau ilmu jiwa yang terbagi atas beberapa bidang seperti psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, dan lain sebagainya. Ilmu kimia, misalnya dibedakan antara kimia organis dan kimia anorganis. Demikian pula halnya dengan linguistik atau ilmu bahasa terdiri dari beberapa bidang.

Bidang-bidang kajian dalam linguistik sangat luas. Beberapa bidang ini membentuk apa yang disebut dengan tataran bahasa atau hierarki bahasa. Hal ini menggambarkan tata urut bahasa, dari tataran yang paling besar hinggi ke tataran yang paling kecil. Tataran bahasa yang paling besar adalah kalimat, dan tataran bahasa yang paling kecil adalah bunyi-bunyi bahasa yang disebut fonem.

Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem dalam bahasa mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Contoh fonem /t/ jika berada di awal kata atau suku kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun jika berada di akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap rapat tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata /buat/.

Pernyataan Verhaar (1981) bahwa untuk banyak ahli linguistik dewasa ini fonetik itu dianggap termasuk dalam fonologi sehingga kedua taraf kajian terhadap bunyi bahasa, yaitu fonetik dan fonologi (fonemik) termasuk dalam fonologi.

Secara garis besar, fonologi merupakan sebuah subdisiplin dalam ilmu bahasa atau linguistik yang mempelajari bunyi bahasa. Pendapat ini dikemukakan antara lain oleh Roger Lass (1988). Roger Lass mengemukakan bahwa fonologi bisa dipersempit lagi sebagai subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari fungsi bahasa. Ini berarti bahwa fonologi mengkaji bunyi-bunyi bahasa, baik bunyi-bunyi itu kelak berfungsi dalam ujaran atau bunyi-bunyi secara umum. Di samping mempelajari fungsi, perilaku, serta organisasi bunyi sebagai unsur-unsur linguistik, fonologi mempelajari juga yang lebih netral terhadap bunyi-bunyi sebagai fenomena dalam dunia fisik dan unsur-unsur fisiologikal, anatomikal, dan psikologikal, serta neurologikal manusia yang membuat atau memproduksi bunyi-bunyi itu. Bidang linguistik yang terakhir ini disebut fonetik. Fonetik mengkaji bunyi-bunyi bahasa secara kongkret, sedangkan fonologi lebih abstrak, dalam arti secara konsep menentukan fungsi bunyi itu dalam pembeda makna kata.

KBBI (1997), fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa. Verhaar (1984:36), fonologi memiliki pengertian yang cukup komprehensif, yakni sebuah ilmu yang mempelajari bidang khusus pada linguistik yang meneliti bunyi suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya, dan bertujuan menjadi pembeda makna dalam suatu bahasa. Di dalam kajian linguistik, konsep fonetik berbeda dari fonemik. Tetapi, fonetik dan fonemik sama-sama membahas ilmu bahasa.

Dengan berbagai uraian diatas penyusun merasa perlu untuk menyusun makalah ini agar dapat membantu penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya untuk mengetahui tentang batasan dan kajian fonologi, beberapa pengetian mengenai tata bunyi, kajian fonetik, kajian fonemik, gejala fonologi Bahasa Indonesia.

1.2    Rumusan Masalah

2.      Apa yang dimaksud dengan Fonologi?

3.      Bagaimana batasan dan kajian Fonologi?

4.      Apa yang dimaksud dengan kajian Fonetik?

 

1.3  Tujuan Pembuatan Makalah

1. Untuk mengetahui tentang pengertian fonologi

2. Untuk mengetahui tentang sejarah fonologi

3. Untuk mengetahui tentang pengertian fonem

4. Untuk mengetahui tentang kajian fonemik

4. Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah fonologi

 

1.4  Manfaat Manfaat yang didapat dari penulisan makalah ini, antara lain:

1. Penulisan dari makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah khasanah keilmuan khususnya ilmu tentang pengertian fonologi dan fonem

2. Dapat dijadikan referensi untuk menganalisis pengertian fonologi dan fonem

3. Pada penulisan makalah ini diharapkan dapat memperluas dan menambah khazanah keilmuan dalam bidang yang berkaitan dengan fonologi

4. Penulisan makalah ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa untuk mengembangkan bidang keilmuan yang berkaitan dengan fonologi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Sejarah Fonologi

Secara etimologis fonologi berasal dari dua kata Yunani yaitu phone yang berarti “bunyi” dan logos yang berarti “ilmu”. Maka pengertian harfiah fonologi adalah “ilmu bunyi”. Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi yang pertama adalah bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik).  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya.

Sejarah fonologi dapat dilacak melalui riwayat pemakaian istilah fonem dari waktu ke waktu. Pada sidang Masyarakat Linguistik Paris, 24 mei 1873, Dufriche Desgenettes mengusulkan nama fonem, sebagai padanan kata Bjm Sprachault. Ferdinand De Saussure dalam bukunya “ Memorie Sur Le Systeme Primitif Des Voyelles Dan Les Langues Indo-Europeennes” ‘memoir tentang sistem awal vokal bahasa – bahasa Indo eropa ‘ yang terbit pada tahun 1878, mendefinisikan fonem sebagai prototip unik dan hipotetik yang berasal dari bermacam bunyi dalam bahasa –bahasa anggotanya.

Perkembangan Fonologi Tahun 1960-an sampai 1970-an menandai dimulainya kajian – kajian empiris tentang bahasa Indonesia maupun bahasa – bahasa lain. Contoh karya – karya yang muncul antara lain :

1.      Artikel tentang fonologi bahasa jawa dan sistem fonemena dan ejaan (1960) oleh samsuri. Ciri – ciri penelitian pada saat itu adalah dipengaruhi oleh gerakan deskriptivisme, menganut aliran neo Bloomfieldian dan bersifat behaviouristik, ketat dalam metodologi dan bahasa lisan menjadi objek utama.

2.      Lalu pada tahun 1970an masuk konsep fonem dan wawasan tentang unsur suprasegmental oleh amran halim, dan Hans Lapoliwa dengan fonologi generatifnya. Namun, untuk mengetahui perkembangan mutakhir linguistic Indonesia saat ini diperlukan survey lagi yang lebih mendalam.

 

2.1.2 Pengertian Fonologi

Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi yang pertama bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fomen (fonemik). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.

Fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Fonologi mempunyai dua cabang ilmu yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia. Fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti (Widi, 2009:03).

2.1.3 Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli

Menurut Chaer (2003:102) fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.Kedudukan fonologi dalam Linguistik dapat dilihat dari hubungan antara bentuk bahasa. Jika bahasa dibagi secara sederhana atas dua ranah: bentuk dan makna, maka fonologi berada pada tataran bentuk. Menurut Halliday, fonologi merupakan penghubung antara substansi bahasa dan bentuk bahasa. Substansi bahasa di sini adalah fonetik sementara tata bahasa (grammar) dan leksis (lexis). Halliday sendiri membagi bahasa atas lima tataran, yang terdiri atas tiga tataran utama, yaitu: isi (substance), bentuk (form), dan situasi ekstralinguistik (sxtralinguistic situation), ditambah dua tataran antra (interlevels), yakni fonologi dan konteks  fonologi dalam studi linguistik adalah sebagai tataran awal yang menjadi syarat mutlak untuk dapat menguasai dengan baik tataran-tataran berikutnya.

Kridalaksana (2002), Menurut Kridalaksana yang di kutip dari kamus linguistik, fonologi mempunyai arti bidang pada linguistik yang mempelajari tentang berbagai bunyi bahasa berdasarkan fungsinya.

Abdul Chaer (2003:102), Berdasarkan etimologi “fonologi” terbentuk dari kata “fon” yang berarti “bunyi” dan “logi” berarti sebagai “ilmu”. Maka, umumnya bisa di bilang Fonologi memiliki arti Ilmu yang mempelajari bunyi bahasa yang di pakai oleh manusia.

Verhaar (1984:36) menjelaskan bahwasanya fonologi mempunyai pengertian yang signifikan yang mana sebuah Ilmu yang memperlajari tentang bidang khusus pada linguistik yang meneliti bunyi suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya bertujuan menjadi pembeda antara makna leksikal suatu bahasa.

Keraf, 1984: 30. Fonologi bisa di artikan bagian dari tatanan bahasa yang mempelajari dari bunyi-bunyi bahasa Fromkin & Rodman, menjelaskan Definisi Fonologi adalah suatu bidang linguistik yang mengamati, mempelajari, mengalisa serta membecirakan terkait dengan tata bunyi bahasa.

Trubetzkoy, Fonologi yaitu studi bahasa yang terkait dengan sistem bahasa, organisasi bahasa dan merupakan suatu fungsi linguistis bahasa. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian fonologi bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi alat ucap manusia

 

 

 

2.2 Fonem

2.2.1 Pengertian Fonem

Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna.  Fonem dalam bahasa mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya dalamkata atau suku kata. Contoh fonem /t/ jika berada di awal kata atau suku kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun jika berada di akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap rapat tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata /buat/.

Varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon. Alofon dituliskan diantara dua kurung siku […]. Kalau [p] yang lepas kita tandai dengan 13 [p] saja, sedangkan [p] yang tak lepas kita tandai dengan [p>]. Maka kita dapat berkata bahwa dalam Bahasa Indonesia fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p>]

Ramlan dalam buku Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksissecara jelas menjelaskan bahwa bahasa terdiri atas dua lapis, yaitu: 1. lapis bunyi dan 2. lapis bentuk. (1985: 57)). Lapis bunyi berkait dengan satuan terkecil yaitu fonem, sedang lapis bentuk berkait dengan gabungan unsur bunyi (dalam pola struktur (kalimat) tertentu) yang berakhir dengan makna. Oleh sebab itu sangat beralasan jikabentuk (makna) bermula dari adanya unsur bunyi (bahasa), yaitu fonem.

Telah disinggung di atas, bahwa apa yang disebut fonem adalah, “Satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna; ...” (Kridalaksana, 2001: 55-56). Bertolak dari kutipan tersebut tampak jelas bahwa keberadaan fonem dapat sebagai penyebab adanya beda/kontras makna kata, sehingga bentuk kata mana yang berarti, “n. Orang tua perempuan, ibu.”, dan papayang berarti, “n. cak 1. Ayah; bapak; 2. ...”; (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2001: 707; 827), seandainya diubah menjadi maka dan pipa, sebagai akibat adanya penggantian fonem /n/ diganti /k/ dan fonem /a/ diganti /i/; maka tampak jelas terjadi pergantian makna kata yang bersangkutan.

 Bertolak dari contoh data tersebut tampak jelas bahwa kutipan pengertian fonem berlaku benar adanya. Demikian juga halnya, bertolak dari sajian data tersebut tampak jelas bahwa hasil penggantian fonem yang berakibat adanya beda/kontras makna kata menunjukkan bahwa fonem /n, k, a,i/ bersifat fonemis (sebagai fonem tersendiri)

 

 

2.2.2 Kajian Fonemik

Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif atau unit bunyi yang signifikan. Dalam hal ini perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu bertujuan untuk

1.      menentukan struktur fonemis sebuah bahasa,

2.      membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa. Untuk mengenal dan menentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem, biasanya dilakukan melalui “ kontras pasangan minimal”.

 

Dalam hal ini pasangan minimal ialah pasangan bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa (biasanya berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi berbeda.

Sekurangkurangnya ada empat premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni :

1.      bunyi bahasa dipengaruhi lingkungannya,

2.      bunyi bahasa itu simetris,

3.      bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem yang berbeda,

4.      bunyi bahasa yang bersifat komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem yang sama.

 

2.2.3 Realisasi fonem adalah pengungkapan yang sebenarnya dari ciri atau satuan fonologis, yakni fonem menjadi bunyi bahasa. Realisasi fonem erat kaitannya dengan variasi fonem. Variasi fonem merupakan salah satu wujud pengungkapan dari realisasi fonem. Secara segmental fonem bahasa Indonesia dibedakan atas vokal dan konsonan.

2.2.4 Variasi fonem adalah wujud pelbagai manifestasi bersyarat maupun tak bersyarat dari fonem. Ujud variasi suatu fonem yang ditentukan oleh lingkungannya dalam distribusi yang komplementer disebut varian alofonis atau alofon.

 

Gejala Fonologi Bahasa Indonesia yaitu

·         Penambahan Fonem

Penambahan fonem pada suatu kata pada umumnya berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini dilakukan untuk kelancaran ucapan.

·         Penghilangan Fonem

Penghilangan fonem adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata tanpa mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan kata.

·         Perubahan Fonem

Perubahan fonem adalah berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata agar kata menjadi terdengar dengan jelas atau untuk tujuan tertentu.

·         Kontraksi

Kontraksi adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan. Kadang-kadang ada perubahan atau penggantian fonem.

·         Analogi

Analogi adalah pembentukan suatu kata baru berdasarkan suatu contoh yang sudah ada (Keraf, 1987:133).

·         Fonem Suprasegmental

Fonem vokal dan konsonan merupakan fonem segmental karena dapat diruas-ruas. Fonem tersebut biasanya terwujud bersama-sama dengan ciri suprasegmental seperti tekanan, jangka dan nada.

 

Di samping ketiga ciri itu, pada untaian terdengar pula ciri suprasegmental lain, yakni intonasi dan ritme.

·         Jangka, yaitu panjang pendeknya bunyi yang diucapkan. Tanda […]

·         Tekanan, yaitu penonjolan suku kata dengan memperpanjang pengucapan, meninggikan nada dan memperbesar intensitas tenaga dalam pengucapan suku kata tersebut.

·         Jeda atau sendi, yaitu ciri berhentinya pengucapan bunyi.

·         Intonasi, adalah ciri suprasegmental yang berhubungan dengan naik turunnya nada dalam pelafalan kalimat.

·         Ritme, adalah cirri suprasegmental yang br\erhubungan dengan pola pemberian tekanan pada kata dalam kalimat. Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan yang didapat, tentang pengertian fonologi dan fonem. Dapat disimpulkan bahwa Secara garis besar, fonologi merupakan sebuah subdisiplin dalam ilmu bahasa atau linguistik yang mempelajari bunyi bahasa. Secara garis besar, fonologi bisa dipersempit lagi sebagai subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari fungsi bahasa. Ini berarti bahwa fonologi mengkaji bunyi-bunyi bahasa, baik bunyi-bunyi itu kelak berfungsi dalam ujaran atau bunyi-bunyi secara umum.

Fonologi juga memiliki pengertian yang cukup komprehensif, yakni sebuah ilmu yang mempelajari bidang khusus pada linguistik yang meneliti bunyi suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya, dan bertujuan menjadi pembeda makna dalam suatu bahasa. Di dalam kajian linguistik, konsep fonetik berbeda dari fonemik. Tetapi, fonetik dan fonemik sama-sama membahas ilmu bahasa.

 

 

3.2  SARAN

            Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hasan, Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Husen, Akhlan, dan Yayat Sudaryat. 1996. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Misdan, Undang. 1980. Bahasa Indonesia Pelajaran Bahasa II. Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Muchlisoh, dkk. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Resmini, Novi. 2006. Kebahasaan (Fonologi, Morfologi, dan Semantik). Bandung: UPI PRESS.

Susandi. 2009. Seputar Bahasa dan Fonologi. [Online]. Tersedia: http://susandi.wordpress.com/. 24 September 2010.

https://muhammadsyailan.blogspot.com/2019/10/makalah-lengkap-fonologi-bahasa.html

Ary Setyadi, “Pasangan Minimal” Fonem Dasar Pembelajaran Materi Fonologi Bahasa Indonesia. Link: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/nusa/article/viewFile/21314/14288

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Karya Amir Hamzah Berjudul "Padamu Jua"

Analisis Iklan Air Mineral "Aqua" Pada Televisi

Analisis Puisi Berjudul "Serenada Hijau" Karya W.S Rendra