Makalah Pengertian Fonologi dan Fonem
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan
tugas makalah yang berjudul ”Pengertian Fonologi dan Fonem” ini tepat pada
waktunya.
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas dari dosen pada mata kuliah
Fonologi. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang
sejarah fonologi, pengertian fonologi, pengertian fonem serta kajian fonemik
bagi peserta didik dan para pembaca.
Saya mengucapkan terima
kasih kepada bapak Dr. Prihadi, M. Pd, selaku dosen mata kuliah Fonologi yang
telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan
sesuai bidang studi yang ditekuni.
Terlepas dari semua itu,
saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan
kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka, saya
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki
makalah ini menjadi lebih baik.
Akhir kata, saya
berharap makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan terhadap
pembaca.
Yogyakarta, 23 Mei 2021
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................ 2
DAFTAR ISI................................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... 4
1.1 Latar
Belakang........................................................................................................ 4
1.2 Rumusan
Masalah................................................................................................... 5
1.3 Tujuan Pembuatan Makalah............................................................................... 5
1.4
Manfaat Manfaat yang
didapat dari penulisan makalah......................................... 6
BAB II .......................................................................................................................... 7
2.1
Kajian Teori........................................................................................................... 7
2.1.1 Sejarah Fonologi.............................................................................................. 7
2.1.2 Pengertian
Fonologi.......................................................................................... 8
2.1.3 Pengertian
Fonologi Menurut Para Ahli ............................................................ 8
2.2 Fonem...................................................................................................................... 9
2.2.1 Pengertian
Fonem............................................................................................. 9
2.2.2 Kajian Fonemik................................................................................................. 10
2.2.3 Realisasi
fonem.................................................................................................. 11
2.2.4 Variasi fonem..................................................................................................... 11
BAB III PENUTUP..................................................................................................... 14
3.1 KESIMPULAN..................................................................................................... 14
3.2 SARAN................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan suatu sistem dari lambang bunyi yang
digunakan manusia untuk melakukan komunikasi. Dengan begitu Bahasa Indonesia
pada hakikatnya memiliki ruang lingkup juga tujuan yang membuat tumbuhnya
kemampuan untuk dapat mengungkapkan perasaan juga pikiran dengan menggunakan
bahasa yang baik dan benar agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik dan
benar.
Ilmu bahasa atau linguistik memiliki beberapa bidang-bidang
dibawahnya. Seperti Psikologi atau ilmu jiwa yang terbagi atas beberapa bidang
seperti psikologi
kepribadian, psikologi perkembangan, dan lain sebagainya. Ilmu kimia, misalnya
dibedakan antara kimia organis dan kimia anorganis. Demikian pula halnya dengan
linguistik atau ilmu bahasa terdiri dari beberapa bidang.
Bidang-bidang kajian dalam linguistik sangat luas. Beberapa
bidang ini membentuk apa yang disebut dengan tataran bahasa atau hierarki
bahasa. Hal ini menggambarkan tata urut bahasa, dari tataran yang paling besar
hinggi ke tataran yang paling kecil. Tataran bahasa yang paling besar adalah kalimat,
dan tataran bahasa yang paling kecil adalah bunyi-bunyi bahasa yang
disebut fonem.
Istilah
fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat
fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem
dalam bahasa mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya
dalam kata atau suku kata. Contoh fonem /t/ jika berada di awal kata atau suku
kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun jika berada di
akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap rapat
tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata /buat/.
Pernyataan
Verhaar (1981) bahwa untuk banyak ahli linguistik dewasa ini fonetik itu
dianggap termasuk dalam fonologi sehingga kedua taraf kajian terhadap bunyi
bahasa, yaitu fonetik dan fonologi (fonemik) termasuk dalam fonologi.
Secara
garis besar, fonologi merupakan sebuah subdisiplin dalam ilmu bahasa
atau linguistik yang mempelajari bunyi bahasa. Pendapat ini dikemukakan antara
lain oleh Roger Lass (1988). Roger Lass mengemukakan bahwa fonologi bisa
dipersempit lagi sebagai subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari fungsi
bahasa. Ini berarti bahwa fonologi mengkaji bunyi-bunyi bahasa, baik bunyi-bunyi
itu kelak berfungsi dalam ujaran atau bunyi-bunyi secara umum. Di samping
mempelajari fungsi, perilaku, serta organisasi bunyi sebagai unsur-unsur
linguistik, fonologi mempelajari juga yang lebih netral terhadap bunyi-bunyi
sebagai fenomena dalam dunia fisik dan unsur-unsur fisiologikal, anatomikal,
dan psikologikal, serta neurologikal manusia yang membuat atau memproduksi
bunyi-bunyi itu. Bidang linguistik yang terakhir ini disebut fonetik. Fonetik
mengkaji bunyi-bunyi bahasa secara kongkret, sedangkan fonologi lebih
abstrak, dalam arti secara konsep menentukan fungsi bunyi itu dalam pembeda
makna kata.
KBBI
(1997), fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi
bahasa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang
bunyi bahasa. Verhaar (1984:36), fonologi memiliki pengertian yang cukup
komprehensif, yakni sebuah ilmu yang mempelajari bidang khusus pada linguistik
yang meneliti bunyi suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya, dan
bertujuan menjadi pembeda makna dalam suatu bahasa. Di dalam kajian linguistik,
konsep fonetik berbeda dari fonemik. Tetapi, fonetik dan fonemik sama-sama
membahas ilmu bahasa.
Dengan berbagai uraian diatas penyusun merasa perlu untuk
menyusun makalah ini agar dapat membantu penyusun pada khususnya dan pembaca
pada umumnya untuk mengetahui tentang batasan dan kajian fonologi, beberapa
pengetian mengenai tata bunyi, kajian fonetik, kajian fonemik, gejala fonologi
Bahasa Indonesia.
1.2 Rumusan
Masalah
2.
Apa
yang dimaksud dengan Fonologi?
3.
Bagaimana
batasan dan kajian Fonologi?
4.
Apa
yang dimaksud dengan kajian Fonetik?
1.3
Tujuan Pembuatan Makalah
1. Untuk mengetahui tentang pengertian fonologi
2. Untuk mengetahui tentang sejarah fonologi
3. Untuk mengetahui tentang pengertian fonem
4. Untuk mengetahui tentang kajian fonemik
4. Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah fonologi
1.4
Manfaat Manfaat yang didapat dari penulisan makalah
ini, antara lain:
1. Penulisan dari makalah ini diharapkan dapat
bermanfaat dalam menambah khasanah keilmuan khususnya ilmu tentang pengertian
fonologi dan fonem
2. Dapat dijadikan referensi untuk menganalisis
pengertian fonologi dan fonem
3. Pada penulisan makalah ini diharapkan dapat
memperluas dan menambah khazanah keilmuan dalam bidang yang berkaitan dengan fonologi
4. Penulisan makalah ini diharapkan dapat menjadi
rujukan bagi mahasiswa untuk mengembangkan bidang keilmuan yang berkaitan
dengan fonologi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Sejarah Fonologi
Secara
etimologis fonologi berasal dari dua kata Yunani yaitu phone yang berarti
“bunyi” dan logos yang berarti “ilmu”. Maka pengertian harfiah fonologi adalah
“ilmu bunyi”. Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi.
Objek kajian fonologi yang pertama adalah bunyi bahasa (fon) yang disebut tata
bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem
(fonemik). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji
bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya.
Sejarah
fonologi dapat dilacak melalui riwayat pemakaian istilah fonem dari waktu ke
waktu. Pada sidang Masyarakat Linguistik Paris, 24 mei 1873, Dufriche
Desgenettes mengusulkan nama fonem, sebagai padanan kata Bjm Sprachault.
Ferdinand De Saussure dalam bukunya “ Memorie Sur Le Systeme Primitif Des
Voyelles Dan Les Langues Indo-Europeennes” ‘memoir tentang sistem awal vokal
bahasa – bahasa Indo eropa ‘ yang terbit pada tahun 1878, mendefinisikan fonem
sebagai prototip unik dan hipotetik yang berasal dari bermacam bunyi dalam
bahasa –bahasa anggotanya.
Perkembangan
Fonologi Tahun 1960-an sampai 1970-an menandai dimulainya kajian – kajian
empiris tentang bahasa Indonesia maupun bahasa – bahasa lain. Contoh karya –
karya yang muncul antara lain :
1.
Artikel
tentang fonologi bahasa jawa dan sistem fonemena dan ejaan (1960) oleh samsuri.
Ciri – ciri penelitian pada saat itu adalah dipengaruhi oleh gerakan
deskriptivisme, menganut aliran neo Bloomfieldian dan bersifat behaviouristik,
ketat dalam metodologi dan bahasa lisan menjadi objek utama.
2.
Lalu
pada tahun 1970an masuk konsep fonem dan wawasan tentang unsur suprasegmental
oleh amran halim, dan Hans Lapoliwa dengan fonologi generatifnya. Namun, untuk
mengetahui perkembangan mutakhir linguistic Indonesia saat ini diperlukan
survey lagi yang lebih mendalam.
2.1.2 Pengertian
Fonologi
Fonologi
merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi. Objek kajian fonologi
yang pertama bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang
kedua mengkaji fonem yang disebut tata fomen (fonemik). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji
bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya dan perubahannya. Fonologi mengkaji
bunyi bahasa secara umum dan fungsional.
Fonologi
adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi
bahasa secara umum. Fonologi mempunyai dua cabang ilmu yaitu fonetik dan
fonemik. Fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan
bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap
manusia. Fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut
fungsinya sebagai pembeda arti (Widi, 2009:03).
2.1.3 Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli
Menurut
Chaer (2003:102) fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari,
menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.Kedudukan fonologi
dalam Linguistik dapat dilihat dari hubungan antara bentuk bahasa. Jika bahasa
dibagi secara sederhana atas dua ranah: bentuk dan makna, maka fonologi berada
pada tataran bentuk. Menurut Halliday, fonologi merupakan penghubung antara
substansi bahasa dan bentuk bahasa. Substansi bahasa di sini adalah fonetik
sementara tata bahasa (grammar) dan leksis (lexis). Halliday sendiri membagi
bahasa atas lima tataran, yang terdiri atas tiga tataran utama, yaitu: isi
(substance), bentuk (form), dan situasi ekstralinguistik (sxtralinguistic
situation), ditambah dua tataran antra (interlevels), yakni fonologi dan
konteks fonologi dalam studi linguistik adalah sebagai tataran awal
yang menjadi syarat mutlak untuk dapat menguasai dengan baik tataran-tataran
berikutnya.
Kridalaksana
(2002), Menurut Kridalaksana yang di kutip dari kamus linguistik,
fonologi mempunyai arti bidang pada linguistik yang mempelajari tentang
berbagai bunyi bahasa berdasarkan fungsinya.
Abdul Chaer
(2003:102), Berdasarkan etimologi “fonologi” terbentuk dari kata “fon”
yang berarti “bunyi” dan “logi” berarti sebagai “ilmu”. Maka, umumnya bisa di
bilang Fonologi memiliki arti Ilmu yang mempelajari bunyi bahasa yang di pakai
oleh manusia.
Verhaar (1984:36)
menjelaskan bahwasanya fonologi mempunyai pengertian yang signifikan yang mana
sebuah Ilmu yang memperlajari tentang bidang khusus pada linguistik yang
meneliti bunyi suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya bertujuan
menjadi pembeda antara makna leksikal suatu bahasa.
Keraf, 1984: 30. Fonologi
bisa di artikan bagian dari tatanan bahasa yang mempelajari dari bunyi-bunyi
bahasa Fromkin & Rodman, menjelaskan Definisi Fonologi adalah suatu bidang
linguistik yang mengamati, mempelajari, mengalisa serta membecirakan terkait
dengan tata bunyi bahasa.
Trubetzkoy, Fonologi
yaitu studi bahasa yang terkait dengan sistem bahasa, organisasi bahasa dan
merupakan suatu fungsi linguistis bahasa. Dari penjelasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa pengertian fonologi bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa
yang diproduksi alat ucap manusia
2.2 Fonem
2.2.1 Pengertian Fonem
Istilah
fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat
fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem dalam bahasa mempunyai beberapa macam
lafal yang bergantung pada tempatnya dalamkata atau suku kata. Contoh fonem /t/
jika berada di awal kata atau suku kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata
/topi/, fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun jika berada di akhir kata, fonem /t/
tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap rapat tertutup saat mengucapkan
bunyi, misal pada kata /buat/.
Varian
fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan
makna secara fonetis berbeda. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti
dinamakan alofon. Alofon dituliskan diantara dua kurung siku […]. Kalau [p]
yang lepas kita tandai dengan 13 [p] saja, sedangkan [p] yang tak lepas kita
tandai dengan [p>]. Maka kita dapat berkata bahwa dalam Bahasa Indonesia
fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p>]
Ramlan dalam buku Ilmu Bahasa Indonesia:
Sintaksissecara jelas menjelaskan bahwa bahasa terdiri atas dua lapis, yaitu:
1. lapis bunyi dan 2. lapis bentuk. (1985: 57)). Lapis bunyi berkait dengan
satuan terkecil yaitu fonem, sedang lapis bentuk berkait dengan gabungan unsur
bunyi (dalam pola struktur (kalimat) tertentu) yang berakhir dengan makna. Oleh
sebab itu sangat beralasan jikabentuk (makna) bermula dari adanya unsur bunyi
(bahasa), yaitu fonem.
Telah disinggung di atas, bahwa apa yang disebut fonem
adalah, “Satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna; ...”
(Kridalaksana, 2001: 55-56). Bertolak dari kutipan tersebut tampak jelas bahwa
keberadaan fonem dapat sebagai penyebab adanya beda/kontras makna kata,
sehingga bentuk kata mana yang berarti, “n. Orang tua perempuan, ibu.”, dan
papayang berarti, “n. cak 1. Ayah; bapak; 2. ...”; (Kamus Besar Bahasa
Indonesia: 2001: 707; 827), seandainya diubah menjadi maka dan pipa, sebagai
akibat adanya penggantian fonem /n/ diganti /k/ dan fonem /a/ diganti /i/; maka
tampak jelas terjadi pergantian makna kata yang bersangkutan.
Bertolak dari
contoh data tersebut tampak jelas bahwa kutipan pengertian fonem berlaku benar
adanya. Demikian juga halnya, bertolak dari sajian data tersebut tampak jelas
bahwa hasil penggantian fonem yang berakibat adanya beda/kontras makna kata
menunjukkan bahwa fonem /n, k, a,i/ bersifat fonemis (sebagai fonem tersendiri)
2.2.2
Kajian
Fonemik
Istilah
fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat
fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem
juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif atau unit bunyi
yang signifikan. Dalam hal ini perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk
menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.
Dengan demikian fonemisasi itu bertujuan untuk
1.
menentukan
struktur fonemis sebuah bahasa,
2.
membuat
ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa. Untuk mengenal dan menentukan
bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem, biasanya dilakukan
melalui “ kontras pasangan minimal”.
Dalam hal ini pasangan
minimal ialah pasangan bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam
sebuah bahasa (biasanya berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali
satu bunyi berbeda.
Sekurangkurangnya ada empat
premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni :
1.
bunyi
bahasa dipengaruhi lingkungannya,
2.
bunyi
bahasa itu simetris,
3.
bunyi
bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem yang
berbeda,
4.
bunyi
bahasa yang bersifat komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem yang
sama.
2.2.3 Realisasi
fonem adalah pengungkapan yang sebenarnya
dari ciri atau satuan fonologis, yakni fonem menjadi bunyi bahasa. Realisasi
fonem erat kaitannya dengan variasi fonem. Variasi fonem merupakan salah satu
wujud pengungkapan dari realisasi fonem. Secara segmental fonem bahasa
Indonesia dibedakan atas vokal dan konsonan.
2.2.4 Variasi
fonem adalah wujud pelbagai manifestasi
bersyarat maupun tak bersyarat dari fonem. Ujud variasi suatu fonem yang
ditentukan oleh lingkungannya dalam distribusi yang komplementer disebut varian
alofonis atau alofon.
Gejala Fonologi Bahasa Indonesia yaitu
·
Penambahan Fonem
Penambahan fonem pada suatu
kata pada umumnya berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini dilakukan untuk
kelancaran ucapan.
·
Penghilangan Fonem
Penghilangan fonem adalah
hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata tanpa
mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan kata.
·
Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah
berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata agar kata menjadi terdengar dengan
jelas atau untuk tujuan tertentu.
·
Kontraksi
Kontraksi adalah gejala
yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan.
Kadang-kadang ada perubahan atau penggantian fonem.
·
Analogi
Analogi adalah pembentukan
suatu kata baru berdasarkan suatu contoh yang sudah ada (Keraf, 1987:133).
·
Fonem Suprasegmental
Fonem vokal dan konsonan
merupakan fonem segmental karena dapat diruas-ruas. Fonem tersebut biasanya
terwujud bersama-sama dengan ciri suprasegmental seperti tekanan, jangka dan
nada.
Di samping ketiga ciri itu,
pada untaian terdengar pula ciri suprasegmental lain, yakni intonasi dan ritme.
·
Jangka,
yaitu panjang pendeknya bunyi yang diucapkan. Tanda […]
·
Tekanan,
yaitu penonjolan suku kata dengan memperpanjang pengucapan, meninggikan nada
dan memperbesar intensitas tenaga dalam pengucapan suku kata tersebut.
·
Jeda
atau sendi, yaitu ciri berhentinya pengucapan bunyi.
·
Intonasi,
adalah ciri suprasegmental yang berhubungan dengan naik turunnya nada dalam
pelafalan kalimat.
·
Ritme,
adalah cirri suprasegmental yang br\erhubungan dengan pola pemberian tekanan
pada kata dalam kalimat. Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam
bahasa Indonesia tidak membedakan makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang
dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang
didapat, tentang pengertian fonologi dan fonem. Dapat disimpulkan bahwa Secara garis besar, fonologi
merupakan sebuah subdisiplin dalam ilmu bahasa atau linguistik yang
mempelajari bunyi bahasa. Secara garis besar, fonologi bisa dipersempit lagi
sebagai subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari fungsi bahasa. Ini berarti
bahwa fonologi mengkaji bunyi-bunyi bahasa, baik bunyi-bunyi itu kelak
berfungsi dalam ujaran atau bunyi-bunyi secara umum.
Fonologi juga memiliki pengertian yang cukup komprehensif, yakni
sebuah ilmu yang mempelajari bidang khusus pada linguistik yang meneliti bunyi
suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya, dan bertujuan menjadi
pembeda makna dalam suatu bahasa. Di dalam kajian linguistik, konsep fonetik
berbeda dari fonemik. Tetapi, fonetik dan fonemik sama-sama membahas ilmu
bahasa.
3.2 SARAN
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis
akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan
sumber-sumber yang lebih banyak dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Hasan, Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Husen, Akhlan, dan Yayat Sudaryat.
1996. Fonologi Bahasa Indonesia.
Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Misdan, Undang. 1980. Bahasa Indonesia Pelajaran Bahasa II.
Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Muchlisoh, dkk. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Resmini, Novi. 2006. Kebahasaan (Fonologi, Morfologi, dan
Semantik). Bandung: UPI PRESS.
Susandi. 2009. Seputar Bahasa dan Fonologi. [Online]. Tersedia: http://susandi.wordpress.com/.
24 September 2010.
https://muhammadsyailan.blogspot.com/2019/10/makalah-lengkap-fonologi-bahasa.html
Ary Setyadi, “Pasangan Minimal”
Fonem Dasar Pembelajaran Materi Fonologi Bahasa Indonesia. Link: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/nusa/article/viewFile/21314/14288
Komentar
Posting Komentar