Kesimpulan Cerpen Mimpi Dan Kebebasan Karya Erlina Rakhmawati
Kolonialisme akan selalu mengikis tradisi-tradisi di negeri manapun penjajahan dilakukan (Loomba, 2003:295). Perjuangan terhadap pengikisan budaya tersebut dibawakan lewat karakter wanita. Pada cerpen Mimpi dan Kebebasan ini melukiskan sebuah harapan tentang hadirnya wanita modern lewat pandang Feminisme Moderat.
Feminisme Moderat dapat ditafsirkan berbeda perkembangannya sesuai dengan keberadaannya dalam masyarakat yang berbeda pula. Jika di Indonesia, sebagai salah satu contoh memang kehadiran tradisi Jawa yang begitu kuat mendasari pribadi wanitanya. Disamping itu, saling tarik-menarik terhadap kolonialisme yang banyak membawa arus perubahan dan diharapkan „keningratan‟ yang tetap dijaga akan berkontribusi terhadapnya. Akhirnya, praktik partisipasi perempuan dalam keseluruhan perpolitikan pascakolonial ternyata banyak ditemukan.
Perempuan pada dasarnya merupakan bagian tersendiri untuk dikaji dalam sejarah. Kepekaannya dalam merespon perkembangan lingkungan menjadikan agen perjuangan kolonial yang berbeda. Perhatian lebih terhadap kaumnya bisa memunculkan sejarah baru. Secara kongkrit tulisan Wanita Indonesia ini ingin menghadirkan Kewanitaan Indonesia. Kecemasan akan ambivalensi yang dibawa oleh arus kolonialisme atas masalah ras, seks, identitas nasional, termasuk kegelisahan mengahadapi aturan Eropa yang dianggap menentang hierarki gender yang sudah mapan telah bertindak mengekang dan mencekal pencitraan Wanita Indonesia (Hatley, 2006:191). Cerpen „Mimpi dan Kebebasan‟ mencoba menyeimbangkan keraguraguan tersebut
Komentar
Posting Komentar