Chairil Anwar, Pelopor Sastrawan Angkatan 45
1.
Chairil
Anwar
Si
Binatang Jalang ini dinobatkan H.B. Jasin sebagai pelopor sastrawan angkatan
45. Karya legendarisnya berjudul “Aku”. Pria kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini
mampu melahirkan karya yang heroik dan menggugah ‘kehidupan’. Ia menggubah
puisi-puisi dengan tajuk pemberontakan, kematian, individualisme,
eksistensialisme, hingga multi-interpretasi. Ia meninggal di usia muda,
tepatnya pada usia 26 tahun di Jakarta.
Karyanya:
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan
merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus
kulitku
Aku tetap meradang
menerjang
Luka dan bisa kubawa
berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak
perduli
Aku mau hidup seribu
tahun lagi
Arti
Puisi:
Wujud
kesetiaan dan keteguhan hati atas pilihan kebenaran yang diyakininya. Hal ini
tercermin melalui dua kalimat di awal puisi tersebut, yakni “Kalau sampai
waktuku 'Ku mau tak seorang kan merayu” Keberanian dalam berjuang meskipun
banyak resiko yang akan dihadapi. Termasuk resiko untuk kehilangan nyawa atau
terluka karena senjata musuh. Inilah yang digelorakan oleh Chairil Anwar, yang
tersurat pada bait ketiga puisi tersebut. Semangat yang tak pernah padam.
Sebagaimana yang dinyatakan melalui kalimat “aku mau hidup seribu tahun lagi”.
Hal tersebut adalah cermin dan betapa semangat Chairil Anwar untuk berjuang,
tidak ingin dibatasi oleh waktu.
Kalau sampai waktuku
Waktu
yang dimaksud dalam kutipan (1) adalah sampaian dari waktu atau sebuah tujuan
yang dibatasi oleh waktu. Chairil adalah penyair yang sedang dalam pencarian
bahasa ucap yang mampu memenuhi luapan ekspresinya sesuai dengan yang
diinginkannya, tanpa harus memperdulikan bahasa ucap dari penyair lain saat
itu. Chairil juga memberikan awalan kata ‘kalau’ yang berarti sebuah
pengandaian. Jadi, Charil berandai-andai tentang suatu masa saat ia sampai pada
apa yang ia cari selama ini, yaitu penemuan bahasa ucap yang berbeda dengan
ditandai keluarnya puisi tersebut.
‘Ku mau tak seorang ‘kan
merayu
Pada
kutipan (2) inilah watak Charil sangat tampak mewarnai sajaknya. Ia tahu bahwa
dengan menuliskan puisi Aku ini akan memunculkan banyak protes dari berbagai
kalangan, terutama dari kalangan penyair. Memang dasar sifat Chairil, ia tak
menanggapi pembicaraan orang tentang karyanya ini, karena memang inilah yang
dicarinya selama ini. Bahkan ketidakpeduliannya itu lebih dipertegas pada lirik
selanjutnya pada kutipan (3).
Tidak juga kau
Kau
yang dimaksud dalam kutipan (3) adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini.
Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah
mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk.
Berbicara tentang baik dan buruk, bait selanjutnya akan berbicara tentang nilai
baik atau buruk dan masih tentang ketidakpedulian Chairil atas keduanya.
Tidak perlu sedu sedan
itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Zaini,
salah seorang Sahabat Chairil pernah bercerita, bahwa ia pernah mencuri baju
Chairil dan menjualnnya. Ketika Chairil mengetahui perbuatan sahabatnya itu,
Chairil hanya berkata, “Mengapa aku begitu bodoh sampai bisa tertipu oleh kau”.
Ini menunjukkan suatu sikap hidup Chairil yang tidak mempersoalkan
baik-buruknya suatu perbuatan, baik itu dari segi ketetetapan masyarakat,
maupun agama. Menurut Chairil, yang perlu diperhatikan justru lemah atau
kuatnya orang. Dalam kutipan (4), ia menggunakan kata ‘binatang jalang’, karena
ia ingin menggambar seolah seperti binatang yang hidup dengan bebas, sekenaknya
sendiri, tanpa sedikitpun ada yang mengatur. Lebih tepatnya adalah binatang
liar. Karena itulah ia ‘dari kumpulannya terbuang’. Dalam suatu kelompok pasti
ada sebuah ikatan, ia ‘dari kumpulannya terbuang’ karena tidak ingin mengikut
ikatan dan aturan dalam kumpulannya.
Biar peluru menembus
kulitku
Aku tetap meradang
menerjang
Luka dan bisa kubawa
berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Peluru
tak akan pernah lepas dari pelatuknya, yaitu
pistol. Sebuah pistol seringkali digunakan untuk melukai sesuatu. Pada kutipan
(5), bait tersebut tergambar bahwa Chairil sedang ‘diserang’ dengan adanya
‘peluru menembus kulit’, tetapi ia tidak mempedulikan peluru yang merobek
kulitnya itu, ia berkata “Biar”. Meskipun dalam keadan diserang dan terluka,
Chairil masih memberontak, ia ‘tetap meradang menerjang’ seperti binatang liar
yang sedang diburu. Selain itu, lirik ini juga menunjukkan sikap Chairil yang
tak mau mengalah. Semua cacian dan berbagai pembicaraan tentang baik atau buruk
yang tidak ia pedulikan dari sajak tersebut juga akan hilang, seperti yang ia
tuliskan pada lirik selanjutnya.
Dan aku akan lebih tidak
perduli
Aku mau hidup seribu
tahun lagi
Inilah
yang menegaskan watak dari penyair atau pun dari puisi ini, suatu
ketidakpedulian. Pada kutipan (6), bait ini seolah menjadi penutup dari puisi
tersebut. Sebagaimana sebuah karya tulis, penutup terdiri atas kesimpulan dan
harapan. Kesimpulannya adalah ‘Dan aku akan lebih tidak perduli’, ia tetap
tidak mau peduli. Chairil berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar
ia tetap bisa mencari-cari apa yang diinginkannya. Disamping Chairil ingin
menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat
pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak pernah lepas
dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya
saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu,
Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya.
Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian
itu.
Komentar
Posting Komentar