Cerita Yang Dialami Penulis
Jangan Memandang Sebelah Mata
Masuk
SMA tahun 2017, aku adalah orang yang beruntung bisa bersekolah di SMA N 1
Pundong ini mengingat banyak teman teman lain yang menginginkan bersekolah di
SMA N 1 Pundong tetapi tidak bisa lulus seleksi masuk sekolah tersebut. Bagaiman
denganku? Apakah aku juga siswa teladan? Jawabnya siswa telatan hahaha. Sebagus
apapun sekolah kita tentu saja tidak semua murid dari sekolah favorit semuanya
pintar dan teladan. Aku cuma beruntung, kebetulan nilai kelulusan SMP ku tinggi
dan aku berhasil diterima di SMA N 1 Pundong. Oh iya, sampai lupa aku
mengenalkan diriku sendiri. Aku adalah Andri, salah satu siswa dari SMA N 1
Pundong. Aku masuk di kelas IPS dan mengambil peminatan mata pelajaran
geografi, padahal aku tidak terlalu pandai dalam pelajaran itu.
Mengenai
sekolahku, yaitu SMA N 1 Pundong. SMA ku terbilang masih sekolah favorite di
daerahku karena memang masih sedikit sekolah sekolah yang memenuhi standar baik
di daerahku. Sekolah mepet sawah, nah itulah sebutan dari SMA ku yang memang
daerahnya masih di dekat pedesaan sehingga sekolahku dekat dengan sawah dan
pemandanganya juga indah. Bisa dibilang, lingkungan yang baik untuk mendukung
prestasi ada di sekolahku. Siswa-siswi yang masuk menjadi murid SMA N 1 Pundong
sudah ter-filter dulu, tentunya yang masuk SMA ku sebagian besar adalah
murid-murid yang cukup berprestasi dari sejak SMP. Dengan begitu, daya pacu
seorang siswa akan menyesuaikan dengan berbagai murid yang kompeten. Banyak hal
yang bisa menjadikan sekolahku menjadi julukan sekolah favorit. Mulai dari
guru-guru yang kompeten, prestasi akademik karena seringnya juara olimpiade
tingkat provinsi maupun nasional, prestasi olah raga, dan fasilitas sekolah
yang bagus, banyaknya lulusan yang tembus ke PTN ternama, banyak alumni
Perwira, dan terbukti banyak alumni-alumni sukses lainnya.
Semua
berubah ketika kepala sekolahku berganti. Ya, begitulah kira kira hal yang
paling membekas di kepalaku dan teman temanku yang lainnya. Prestasi murid
murid lainnya juga ikut menurun karena kepala sekolahku ini merupakan mantan
dari Akmil yang gagal melanjutkan pendidikan karena pada masa pendidikan
mengalami sakit berat dan akhirnya gagal mengikuti kelanjutan pendidikannya.
Beliau kemudian melanjutkan ke jenjang sarjana kemudian bisa menjadi kepala
sekolah dan ditempatkan di sekolahku. Begitulah menurut cerita orang orang
tentang biografi dari kepala sekolah kami.
Lanjut
kepada cerita saya tentang kemunduran prestasi siswa. Kejadian itu terjadi
ketika kami kelas 12. Para siswa menurun prestasinya dikarenakan kepala sekolah
membuat aturan aturan baru mengenai tata tertib sekolah seperti beliau di Akmil
dahulu. Menjadikan siswa yang dahulunya mementingkan otaknya kemudian berbalik
menjadi lebih mementingkan fisiknya karena terlalu banyak dihukum kepala
sekolah. Bagiku, orang yang aku kenal dan sekarang menjadi lebih mementngkan
fisiknya adalah arif. Ia sahabat dekatku yang dulu sering mengajariku tentang pelajaran
yang aku tidak bisa dan tidak paham. Arif biasanya menempati ranking 1 diantara
teman temanku satu jurusan di IPS, tetapi semua berubah ketika Arif banyak
melakukan kesalahan yang kecil tetapi mendapatkan hukuman yang berat dari
kepala sekolah. Kemudian aku bertanya kepadanya,
“Rif,
apakah kepala sekolah terlalu keras memberikanmu hukuman sehingga sekarang kamu
tidak terlalu mementingkan pelajaran?” Tanyaku.
“Entahlah
ndri, setelah aku menceritakan ayahku yang ternyata teman dekat ayahku, aku
langsung dididik menjadi lebih keras.” Jawab Arif.
Begitulah
Arif, ia sering bilang kepadaku ingin masuk ke universitas ternama agar dapat
membanggakan kedua orang tuanya. Tetapi, orang tua Arif mengharuskannya untuk
masuk ke Akmil. Maklum, Arif memiliki tinggi badan yang terbilang tinggi untuk
masuk ke Akpol. Terlebih lagi keluarga Arif merupakan keluarga militer dengan
pendidikan keras.
“Kalau
begitu, mungkin ayahmu bilang kepada kepala sekolah agar mendidikmu dengan
keras agar kamu lebih mementingkan fisik dan dapat fokus masuk ke akmil yang di
inginkan orang tuamu.” Tambahku.
“Mungkin
begitu ndri, aku juga tidak paham dan belum menanyakan kepada ayahku tentang
kepala sekolah kita yang baru ini.” Jawab Arif.
“Mungkin
bisa kamu tanyakan dulu kepada ayahmu, mungkin memang benar beliau yang
menyuruh kepala sekolah agar mendidikmu dengan keras demi keinginan ayahmu agar
kamu masuk ke akmil. Agar kita tidak memandang buruk kepala sekolah karena kita
belum mengetahui kebenarannya saja.” Saranku.
“Baik
ndri, besok aku tanyakan kepada ayahku.” Sambil melambaikan tangan kepadaku
karena andri akan pulang waktu itu.
Ke
esokan harinya, waktu jam istirahat Arif menemuiku di kelas. Ia bercerita
ternyata memang ayahnya yang menyuruh kepala sekolah agar mendidik arif dengan
keras agar ia terbiasa ketika masuk di Akmil yang di inginkan orang tuanya.
Dalam hal itu, yang awal mulanya Arif yang sangat ingin masuk ke universitas
ternama, kemudian banting stir untuk bersikeras masuk di Akmil untuk membuat
keluarganya bangga. Dari sinilah bibit bibit semangat Arif untuk masuk ke Akmil
mulai muncul. Setiap hari ia latihan fisik, dan olahraga dengan teratur. Tak
lupa juga arif belajar dan melakukan les tentang tes tes akademik untuk masuk
di Akmil.
Tak
lama setelah itu, kami pun selesai menjalani ujian akhir dan kami semua
dinyatakan lulus semua satu angkatan. Setiap kelulusan pasti ada perpisahan, di
penghujung sekolahku. Ya, itulah yang di katakan teman teman yang lainnya.
Tetapi masih banyak teman teman lain yang sangat sedih akan perpisahan itu
karena banyaknya kenangan 3 tahun di sekolah. Saat ini, kita hanya tinggal
menunggu wisuda yang diadakan pihak sekolahan. Prosesi wisuda sekaligus
perpisahan angkatanku dilakukan di Gedung BRTPD, tepatnya di depan area sekolah
kami. Ketika kegiatan berlangsung, banyak cucuran air mata dari teman teman
lainnya karena banyak yang tidak menyangka akan lulus dan berpisah dengan teman
teman lain. Para siswa berterima kasih kepada bapak ibu guru karena telah
mendidik dan memberikan ilmunya kepada saya dan teman teman semua. Begitupun Arif,
ia paling pertama mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah karena telah
mendidik Arif dengan penuh pengertian, padahal didikannya keras. Tetapi Arif
tetap berterima kasih karena kemudian ia menemukan jati dirinya untuk masuk ke
Akmil. Tak lupa juga, ayah dari Arif yang merupakan teman akrab dari kepala
sekolah arif juga mengucapkan terima kasih karena telah membantu anaknya agar
dapat mengikuti jejak ayahnya yang juga dari militer.
Satu
tahun berlalu, saat itu aku menjalani tes masuk perguruan tinggi, dan Arif yang
merupakan sahabat dekatku juga menjalani tes masuk ke Akmil. Kami sama sama
berusaha keras agar dapat lolos dan masuk ke tempat yang kami cita citakan. Aku
dengan cita cita masuk ke UGM, dan arif dengan cita citanya masuk Akmil agar
dapat membahagiakan dan membuat bangga orang tuanya. Sesi pengumuman pun sedang
berlangsung. Aku diterima di UGM dan arif dapat diterima juga di Akmil untuk
kemudian menjalani pendidikan di Semarang untuk beberapa tahun. Sebelum
berangkat ke semarang, ia mengajakku bertemu dan mendatangi kepala sekolahku
waktu SMA dulu dengan memberitahu kalau ia akhirnya lolos di Akmil untuk meminta restu dan beberapa pesan agar dapat
menjalani pendidikan dengan baik. Setelah itu kami pun pulang dari rumah kepala
sekolah kami di SMA dan makan berdua untuk yang terakhir sebelum ia pergi
menjalani pendidikan di Semarang.
Komentar
Posting Komentar