Bukan Komunitas melainkan Keluarga sebagai Bangsa, dalam Cerpen Mimpi Dan Kebebasan Karya Erlina Rakhmawati
Pada cerpen dalam pembahasan kali ini, lingkup nasionalis yang terjadi pada dasarnya bukan secara pribadi atau personal begitu saja muncul dalam diri Ratna Sulastriningsih, tetapi terdapat lingkup perjuangan yang dialami olah keluarganya. Hal ini tampak pada karakter selain Ratna yang merupakan bagian dari keluarganya. Diskursus ini mengindikasikan sebuah pesan bahwa keluarga dipakai sekaligus sebagai metafora untuk bangsa (McClintock, 1995:357).
Keluarga dinilai memiliki riwayat perjuangan tersendiri pada kolonialisme. Baik berupa kumpulannya yang menjadi antitesis terhadap bangsanya maupun kesukuannya. Ia mencirikan bagian terkecil, tetapi tidak bisa dilupakan sebagai sejarah. Feminisme yang ingin diangkat dalam diskursus ini bukan mewakili suatu gerakan, seperti pada kutipan berikut. Selain membahagiakan kedua orang tuaku, aku juga berimpian untuk menjadi berguna bagi bangsaku. Pastilah kau tidak percaya bahwa dulu, pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia aku adalah seorang omroeper radio. Stasiun Radio itu letaknya sekitar 3 km dari desa kami dan stasiun itu jika pagi juga dipakai untuk kandang sapi atau sebenarnya itu adalah sebuah kandang. Pada waktu itu, tidak ada wanita seberani aku. Aku bukannya sombong padamu teman, tetapi bisakah kau memahami perasaanku menjadi satu-satunya wanita omroeper, melawan segala teror dan ancaman dari beberapa pihak yang pro Belanda. Tidak terdapat tanda-tanda bahwa tokoh Ratna ingin mewakili perjuangan sekelompok kaum wanita. Secara tegas ia menyatakan, bahwa ia satu-satunya omroeper radio.
Sehingga disimpulkan pendiriannya tersebut didasarkan pada kepatuhannya pada logis nasionalis. Ia bukan feminis. Namun, kegiatannya yang aktif berpolitik begitu domestik, bahkan dalam kepemimpinan, membuka banyak peluang baru bagi kaum wanita (Looomba, 289). Penulis seakan mencoba untuk menutup kemungkinan dari akibat yang ditimbulkan atas gerakan feminisme. Menurut Loomba, harus berhati-hati terhadap kecenderungan dari gerakan tersebut yang akhirnya malah menghomogenkan kaum perempuan(2003:294). Perempuan bisa saja membuat dirinya menjadi dipandang sebelah mata pada perilakunya yang begitu serentak
Komentar
Posting Komentar