Asal-Usul Desa Ngareanak
Sejarah
Desa Ngareanak
Desa Ngareanak adalah
suatu desa yang berada di kecamatan Singorojo, Kendal, Jawa Tengah. Di desa ini
terdapat curug yang sering digunakan untuk mandi oleh warga setempat bernama
curug banteng. Desa Ngareanak Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal secara topografi
termasuk dalam kategori Daerah dataran sedang dengan ketinggian ± 360 M Dari
Permukaan Laut (DPL). Adapun batas - batas wilayah Desa Ngareanak sebagai
berikut:
a. Sebelah Utara : Desa Kalirejo Kec. Singorojo
b. Sebelah Timur : Desa Kedungsari Kec. Singorojo
c. Sebelah Selatan : Desa
Banyuringi Kec. Singorojo
d. Sebelah Barat : Desa Singorojo Kec Singorojo
Secara administrasi
pemerintahan, wilayah Desa Ngareanak terbagi ke dalam wilayah Dusun, RW dan
RT. Dusun Ngareanak terdiri dari 4 RW
dan 10 RT, Dusun Kaliwesi terdiri dari 3 RW dan 8 RT, Dusun Patukan terdiri
dari 1 RW dan 2 RT sehingga jumlah keseluruhan Desa Ngareanak terdiri dari 8 RW
dan 20 RT.
Berdasarkan cerita
tutur tinular yang berupa penggalan – penggalan sejarah yang diceritakan oleh
para sesepuh desa, berhasil dirangkai sebuah rangkaian cerita sejarah terkait
dengan asal muasal dan keberadaan Desa Ngareanak, dalam sebuah rangkaian bahasa
tutur.
Bapak Supri (59),
selaku orang yang sejak kecil berada di kendal sering mendengar cerita tentang
sejarah desa ngareanak. Pak Supri sering mendengar cerita yang diceritakan oleh
bapaknya yang sekarang sudah meninggal. Dia kemudian pindah ke Yogyakarta dan
sekarang menjadi tetangga saya. Dari itulah saya mengetahui sejarah dari desa
Ngareanak. Sesungguhnya sejarah Desa Ngareanak tidak dapat dipisahkan dengan
cerita babad tanah Kendal maupun sejarah perjuangan Nasional Indonesia karena
di dalamnya memuat berbagai bentuk perlawanan rakyat terhadap keberadaan
penjajah di Indonesia. Berdasarkan cerita yang dapat diperoleh dari sesepuh
desa, Pemerintahan di Desa Ngareanak dimulai pada awal tahun 1900-an dan pada
masa itu hiduplah seorang pemimpin pondok yang sakti bernama Ki Ageng
Ngareanak.
Beliau adalah salah
seorang pemimpin di wilayah ini yang dengan gigih memimpin santri dan masyarakat
Ngareanak melawan Belanda. Kewibawaan beliau dikenal oleh masyarakat luas
bahkan sampai ke wilayah Kedu karena kegigihan beliau memperjuangkan
kemerdekaan masyarakatnya.
Pada suatu ketika,
kakak beradik seperguruan Ki Ageng Lor meminta bantuan saudaranya Ki Ageng
Kidul yang tinggal di Dusun Beron, Desa Banaran, Kecamatan Gemawang, Kabupaten
Temanggung. Dalam perjalanan yang menempuh jarak cukup jauh, Ki Ageng
Kidul beristirahat di tepi sebuah sungai. Dalam istirahatnya Ki Ageng Kidul
memakan buah nangka, kemudian biji – bijinya ditanam di tepi sungai
tersebut. Karena inilah, beliau selanjutnya diberi nama Ki Ageng
Kalinongko. Setelah menyelesaikan permasalahannya, selanjutnya mereka
melanjutkan perjalanan ke sebuah kampung/ Dusun bernama Kaliwesi.
Dalam kunjungannya ini,
Ki Ageng Kalinongko mengetahui bahwa Ki Ageng Lor memiliki anak perempuan yang
sangat cantik bernama Nyai Pare Anom, yang kecantikannya terkenal dimana-mana.
Melihat kecantikan Nyai Pare Anom yang sangat mempesona, Ki Ageng Kalinongko
berniat melamar anak perempuan Ki Ageng Lor untuk dijadikan sebagai
menantu. Pada suatu hari, Ki Ageng Kalinongko mengirimkan utusan untuk
menghadap kepada Ki Ageng Lor dalam rangka melamar putrinya. Karena putri
tersebut belum berumah tangga, Ki Ageng Lor “ngareh – areh” (membujuk) anaknya
agar mau dijodohkan dengan anak Ki Ageng Kalinongko. Akan tetapi karena belum
ingin berumah tangga, sang putri menolak, karena khawatir keputusannya
menyinggung dan melukai perasaan orang tua dan Ki Ageng Kalinongko yang
merupakan Paman sendiri, akhirnya Nyai Pare Anom bunuh diri. Usaha Ki Ageng Lor
dalam membujuk anak, kemudian oleh Ki Ageng Lor wilayah tersebut diberi nama
“Ngareanak”. Sehingga dari tersohornya wilayah tersebut, maka oleh khalayak
ramai Ki Ageng Lor dikenal dengan sebutan Ki Ageng Ngareanak yang nama aslinya
adalah Ki Ageng Purboyoso Kusumo.
Karena masalah
pernikahan yang gagal itu, terjadilah pertempuran antara kedua kakak beradik
seperguruan. Sebelum berperang, Ki Ageng Ngareanak berpesan kepada anak buahnya
atau sahabatnya, agar apabila dalam peperangan itu keduanya mati sampyuh (mati
semua), maka jenazah yang terbujur ke Selatan dibawa ke Kalinongko sedangkan
jenazah yang terbujur ke Utara di bawa ke Ngareanak. Pertempuran dahsyat
tersebut terjadi di wilayah Kecamatan Gemawang. Kedua tokoh tersebut mati
bersama (jawa=sampyuh) setelah keduanya mengalami luka yang sangat parah yang
diakibatkan oleh kesaktian mereka sendiri. Kematian keduanya ditandai
dengan memancarnya darah mereka sehingga daerah dimana kedua Ki Ageng ini
meninggal sekarang ini bernama Desa Muncar. Sesuai pesan Ki ageng Ngareanak
maka jenazah Ki Ageng Ngareanak yang membujur ke Selatan dibawa ke Desa
Kalinongko, Kecamatan Gemawang. Sedangkan jenazah Ki Ageng Kalinongko di
bawa ke Desa Ngareanak, karena ketika ditemukan jenazahnya membujur ke arah
Utara.
Diceritakan bahwa pertempuran
tersebut terjadi pada malam hari. Dan pada pagi harinya barulah diketahui
bahwa jenazah yang dibawa masing-masing prajurit ternyata keliru. Ternyata yang
dibawa prajurit Kalinongko adalah jenazah Ki Ageng Ngareanak. Karena mengetahui
yang dibawa adalah bukan jenazah Ki Ageng Kalinongko, maka jenazah Ki Ageng
Ngareanak di makamkan di wilayah lain, yaitu Dusun Beron, Desa Banaran,
Kecamatan Gemawang.
Begitu juga sebaliknya
prajurit Ngareanak mengetahui bahwa ternyata yang dibawa adalah jenazah Ki
Ageng Kalinongko. Sesampainya di Desa Ngareanak, jenazah Ki Ageng Kalinongko
dibaringkan di atas batu tepi sungai. Melihat luka di tubuh beliau yang
mrampang (arang kranjang) selanjutnya sungai tersebut diberi nama kali mrampang
atau yang saat ini menjadi Kali Prompangan (di wilayah Dusun Kaliwesi, Desa
Ngareanak). Namun ketika akan dimakamkan oleh para prajurit Ngareanak
terjadilah keajaiban, ternyata jenazah Ki Ageng Kalinongko menghilang.
Sebelum terjadi
pertempuran secara langsung antara kedua tokoh sakti ini, terjadi adu kesaktian
yang dimiliki beliau. Ki Ageng Ngareanak memiliki kesaktian berupa
kemayan penjelmaan Tikus yang bernama Tikus Jinodo. Sedangkan Ki Ageng
Kalinongko memiliki kesaktian berupa kemayan penjelmaan burung Garuda. Keduanya
beradu kesaktian, strategi dan kelicikan, setelah pertempuran berjalan sekian
lama, karena merasa lelah, burung Garuda beristirahat dengan bertengger di atas
pohon bambu Petung. Garuda tidak mengetahui bahwa tikus Jinodo masuk ke
dalam bambu dengan melobangi ruas-ruas bambu petung tersebut dan setelah
berhasil mencapai posisi dimana Garuda bertengger, sehingga tikus Jinodo berhasil
membunuhnya. Kematian burung Garuda ini selanjutnya menjadi awal
pertempuran secara langsung antara kedua tokoh sakti tersebut.
Keberhasilan tikus Jinodo melobangi ruas – ruas bambu sampai saat ini masih
dapat ditemui buktinya dengan masih diketemukannya bambu petung yang dalamnya
tidak beruas dari atas sampai bawah di daerah kebun Kemantren wilayah Gemawang.
Dengan wafatnya Ki
Ageng Ngareanak / Ki Purboyoso Kusumo, Desa Ngareanak mengalami kekosongan
pimpinan pemerintahan. Kekosongan berlarut-larut dalam waktu yang cukup
lama. Hal ini diketahui oleh Pemerintah Hindia Belanda yang bermarkas di
daerah Rejowinangun atau Kalisat sehingga kemudian terjadi penunjukan /
pemilihan kepala desa pertama yang dijabat oleh bapak Tjo Pawiro, sebagai
Kepala Desa pertama. Pada masa pemerintahannya, beliau mengembangkan
agama islam di Desa Ngareanak bersama sesepuh agama Islam yang bernama Mbah
Kyai Ibrahim.
Sumber: Wawancara Bapak Supri (59)
dan Google
Komentar
Posting Komentar