Artikel Hermeneutika Dalam Novel Berjudul "Gadis Kretek" Karya Ratih Kumala
ANALISIS HERMENEUTIKA DALAM NOVEL “GADIS KRETEK” KARYA RATIH KUMALA
Fahryan Andria Putra
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta
fahryanandria.2020@student.uny.ac.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui analisis hermeneutika pada novel “gadis kretek” karya Ratih Kumala. Untuk melihat citra wanita dan
perjuangan kesetaraan gender melalui hermeneutika yang ada di dalam novel Gadis
Kretek karya Ratih Kumala digunakan teori feminisme. Feminisme diartikan
sebagai gerakan kaum wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita
dan pria. Dalam feminisme dibahas citra wanita dan kesetaraan gender. Citra
wanita merupakan refleksi tentang penyajian sosok wanita dalam keluarga dan
masyarakat yang terdapat dalam suatu karya sastra. Berbagai citra diri serta perjuangan
yang ditampilkan oleh seorang perempuan juga menunjukkan bahwa selain sebagai
seorang pribadi, perempuan juga merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang
lain dalam kehidupannya, serta perempuan juga memiliki kebebasan dalam
mengembangkan kemampuan personalnya dan membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya
tanpa dibatasi oleh stereotip atau peran gender yang kaku (Rahmayati, 2016:
102).
Kata Kunci: hermeneutika,
feminisme
ABSTRACT
This study aims to determine the hermeneutic analysis of Ratih Kumala's
novel "Kretek Girl". In order to see the image of women and the
struggle for gender equality through the hermeneutics in the novel Girl Kretek
by Ratih Kumala, feminist theory is used. Feminism is defined as a women's
movement that demands full equality of rights between women and men. In
feminism discussed the image of women and gender equality. The image of a woman
is a reflection of the representation of a woman in the family and society
contained in a literary work. Various self-images and struggles displayed by a
woman also show that apart from being a person, women are also social beings
who need other people in their lives, and women also have the freedom to
develop their personal abilities and make choices in their lives without being
limited by stereotypes. or rigid gender roles (Rahmayati, 2016: 102).
Keywords: hermeneutics,
feminism
PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan sebuah
fenomena kemanusiaan yang komplek, ada berbagai peristiwa hidup. Semua itu
merupakan hasil ciptaan manusia yang ditujukan untuk manusia. Salah satu
fenomena menarik dalam penciptaan karya sastra di Indonesia akhir-akhir ini adalah
munculnya sejumlah karya yang bernafaskan perempuan. Munculnya karya sastra
yang menceritakan perempuan di latar belakangi oleh sejarah dan pandangan
masyarakat mengenai perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Perempuan dengan segala dinamikanya
merupakan salah satu sumber inspirasi yang tidak pernah habis. Permasalahan
tentang perempuan memang selalu menarik untuk dibahas dan diungkap lebih dalam.
Sosok perempuan dalam keseharian lekat sebagai sosok lembut dan mengundang
perhatian banyak pihak. Sejak dahulu hingga saat ini perempuan menjalankan
peran yang tidak sederhana. Peran ganda para perempuan sudah dikenal sejak
lama, di samping sebagai ibu rumah tangga sekaligus aktif mendukung ekonomi
keluarganya. Bahkan, sosok perempuan dilihat sebagai simbol dan tolok ukur
majunya sebuah peradaban (Kumalasari, 2017 dalam Prayogi, 2020: 1).
Pembahasan-pembahasan mengenai
perempuan tersebut difokuskan pada citra perempuan di setiap aspek kehidupan
serta perjuangan kesetaraan gender yang dilakukan oleh perempuan. Berbagai
citra diri serta perjuangan yang ditampilkan oleh seorang perempuan juga
menunjukkan bahwa selain sebagai seorang pribadi, perempuan juga merupakan
makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya, serta perempuan juga
memiliki kebebasan dalam mengembangkan kemampuan personalnya dan membuat
pilihan-pilihan dalam hidupnya tanpa dibatasi oleh stereotip atau peran gender
yang kaku (Rahmayati, 2016: 102).
Untuk melihat citra wanita dan
perjuangan kesetaraan gender melalui hermeneutika yang ada di dalam novel Gadis
Kretek karya Ratih Kumala digunakan teori feminisme. Feminisme diartikan
sebagai gerakan kaum wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum
wanita dan pria. Dalam feminisme dibahas citra wanita dan kesetaraan gender.
Citra wanita merupakan refleksi tentang penyajian sosok wanita dalam keluarga
dan masyarakat yang terdapat dalam suatu karya sastra. Citra wanita pada novel
ini hanya akan dilihat pada tokoh utamanya saja. Hal tersebut dikarenakan tokoh
utama senantiasa terlibat dalam setiap alur cerita. Sedangkan kesetaraan gender
merupakan sebuah kebebasan yang dimiliki oleh perempuan dalam memilih jalan
hidupnya tanpa batas dan stereotip masyarakat.
Gadis Kretek merupakan novel karya
Ratih Kumala yang menceritakan mengenai seorang perempuan bernama Jeng Yah
(Dasiyah) yang mewarisi perusahaan kretek milik ayahnya, Idroes Moeria. Jeng
Yah diceritakan sebagai seorang perempuan yang tangguh dan mandiri serta
cerdas. Dalam perjalanan hidupnya, Jeng Yah dihadapkan oleh berbagai masalah
mulai yang ringan hingga berat sampai nyawa taruhannya, Jeng Yah dipertemukan
dengan orang-orang yang membantu usahanya. Di samping cerita mengenai
perjalanan hidup Jeng Yah, novel ini juga menceritakan mengenai sebuah keluarga
pemilik perusahaan kretek ternama di Indonesia, Soeradja. Cerita mengenai Jeng
Yah dan Soeradja ini masih berhubungan. Gadis Kretek tidak sekedar bercerita
tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M,
Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis
Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di
Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.
METODE
PENELITIAN
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian deskriptif
kualitatif dengan metode content analisys atau analisis isi. Metode penelitian deskriptif menurut Sugiyono (2018,
hlm. 86) adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel
mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan
atau menghubungkan dengan variabel lain. Artinya penelitian ini hanya ingin
mengetahui bagaimana keadaan variabel itu sendiri tanpa ada pengaruh atau
hubungan terhadap variabel lain seperti penelitian eksperimen atau korelasi.
Penelitian kualitatif memiliki karateristik, datanya dinyatakan dalam
keadaanyang sewajarnya, senyatanya dengan tidak diubah dalam bentuk simbol-simbol
bilangan.
Penelitian ini mendeskripsikan apa yang menjadi masalah, kemudian menganalisis
dan menafsirkan data yang ada. Tujuan content analysis adalah peneliti mencari
kedalaman makna yang ada dalam dokumen atau arsip yang diteliti. Dengan
demikian,peneliti akan menyajikan laporan penelitian yang berisi kutipan-kutipan
data untuk medeskripsikan bagaimana kajian feminism pada novel “Gadis Kretek”
karya Ratih Kumala.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Feminisme
Secara etimologis feminis berasal
dari kata femme (women), berarti
perempuan (tunggal), yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan
(jamak), sebagai kelas sosial (Febrianti dan Kulup, 2019: 53). Istilah feminin sering diberikan kepada sosok
perempuan karena sifat lembut, pasif, penyayang, emosional dan menyukai
anak-anak merupakan sifat alamiah yang seharusnya dimiliki oleh seorang
perempuan yang dipandang sebagai sosok yang tidak lebih unggul dari laki-laki
(Puspita, 2019: 32).
Feminisme muncul sebagai upaya
perlawanan dan pemberontakan atas berbagai kontrol dan dominasi kaum laki-laki
terhadap kaum perempuan yang dilakukan selama berabad-abad lamanya. Gerakan
feminisme ini pada awalnya berasal dari asumsi yang selama ini dipahami bahwa
perempuan bisa ditindas dan dieksploitasi dan dianggap makhluk kelas dua.
Feminisme diyakini merupakan langkah untuk mengakhiri penindasan tersebut
(Gumansyah, 2019: 156).
Feminisme adalah gerakan persamaan
antara laki-laki dan perempuan di segala bidang baik politik, ekonomi,
pendidikan, sosial, maupun kegiatan terorganisasi yang mempertahankan hak-hak
serta kepentingan perempuan. Feminisme merupakan kesadaran akan penindasan dan
pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, baik di tempat kerja dan rumah
tangga.
B.
Pendekatan Sastra Feminisme
Gerakan feminisme berdampak sangat
luas, salah satunya munculnya kritik sastra feminisme. Dalam sastra, feminisme
adalah studi sastra yang memfokuskan kepada perempuan, yang mengemukakan
pemikiran berupa kritik terhadap dominasi laki-laki dengan mengedepankan
identitas perempuan (Djajanegara, 2000: 1). Menurut Wiyatmi (2006: 113)
pendekatan feminisme dalam kajian sastra sering dikenal dengan nama kritik
sastra feminis yakni salah satu kajian karya sastra yang mendasarkan pada
pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang
eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya sastra-karya
sastranya. Ketika seorang pengarang dalam menghadapi karya sastra, ada beberapa
pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengapresiasikan karyanya. Pendekatan
tersebut bertujuan untuk proses komunikasi antara pengarang dengan karyanya
jelas tahapan-tahapannya sesuai kehendak pengarang. Salah satu pendekatan dalam
kritik sastra adalah pendekatan feminisme.
C.
Gender dan Wanita
Kata ”gender‟ dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status
dan tanggung jawab pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari bentukan
(konstruksi) sosial budaya yang tertanam lewat proses sosialisasi dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian gender adalah hasil
kesepakatan antar manusia yang tidak bersifat kodrati. Oleh karenanya gender
bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu waktu ke waktu
berikutnya. Gender tidak bersifat kodrati, dapat berubah dan dapat
dipertukarkan pada manusia satu ke manusia lainnya tergantung waktu dan budaya
setempat (Mafttuhah, 2019: 57).
Secara garis besar dijelaskannya
bahwa Culler (dalam Maftuhah, 2019: 57) menyebutnya sebagai reading as a woman, membaca sebagai
perempuan. Yang dimaksud "membaca sebagai perempuan" adalah kesadaran
pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan
perebutan makna karya sastra. Kesadaran pembaca dalam kerangka kajian sastra
feminis merupakan kajian dengan berbagai metode. Kajian ini meletakkan dasar
bahwa ada gender dalam kategori analisis sastra, suatu kategori yang
fundamental.
Permasalahan tentang wanita selalu
menarik untuk diungkap secara mendalam, baik dari sisi kodratnya, aktivitasnya,
maupun peranannya. Semua hal tersebut difokuskan pada citra diri wanita di
berbagai aspek kehidupannya. Berbagai citra diri yang ditampilkan oleh seorang
wanita juga menunjukkan bahwa selain sebagai seorang pribadi, wanita juga
merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Permasalahan
tentang wanita merupakan ladang bagi para penulis karya sastra. Sastrawan dapat
mengemas bahasa untuk memberi gambaran tentang kehidupan nyata menjadi sebuah
karya sastra yang bernilai estetik (Prayogi, 2020: 2).
PEMBAHASAN
1.
Citra Perempuan
Gadis
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gadis diartikan sebagai anak perempuan yang
sudah akil balig; anak perempuan yang belum kawin; perawan. Gadis memang
identik dengan seorang perempuan yang masih muda dan belum menikah. Dalam novel
tentu pemilihan kata gadis bukan tanpa sebab, penggunaan perempuan sebagai
subjek di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat melalui sampul dan juga judul
yang menyelimuti buku menawarkan sesuatu yang sangat berbeda. Sosok seorang
gadis yang sedang mengkretek. Kretek dianggap sebagai sebuah bagian dari budaya
bangsa Indonesia yang melekat sejak zaman dahulu. Namun, dalam novel kata gadis
tidak hanya terkungkung pada seorang yang belum menikah dan masih muda, semua
perempuan dalam novel dapat disebut gadis, karena mereka semua berhubungan
dengan kretek, benda yang menjadi poros dalam penceritaan novel.
Dalam
keluarga, seorang perempuan merupakan gadis dari ayah dan ibunya, ia adalah
anugerah yang diberikan Tuhan kepada orang tua yang harus dirawat dan dijaga
hingga dewasa sehingga menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi keluarga,
orang lain, dan nusa bangsa. Gadis dalam novel “Gadis Kretek” merupakan tonggak
dari benang merah penceritaan. Citra gadis yang disebutkan dalam novel sungguh
beragam. Pertama, dalam ranah keluarga, ibu sungguh sangat dibutuhkan untuk
menjaga pondasi antara anak dengan keluarga. Hal tersebut dikarenakan seorang
wanita memiliki naluri sebagai ibu yang kuat terhadap anaknya. Oleh karena itu,
anak pun pada umumnya lebih sering berinteraksi dengan ibunya. Kedekatan batin
antara ibu dan anaknya didapat sejak sang ibu mengandung, menyusui, dan
menangani anak hingga sang anak dewasa. Peran ibu sangat krusial karena ibu
yang umumnya menjadi penengah saat terjadi kesalahpahaman dalam keluarga
(Harahap, 2014 dalam Prayogi, 2020: 3).
Selain
citranya dalam keluarga, perempuan juga merupakan makhluk sosial yang merupakan
anggota dari masyarakat. Citra sosial perempuan menunjukkan peran perempuan
dalam kehidupannya, yaitu berperan dalam keluarga dan masyarakat. Perempuan
mengambil bagian dalam keluarga sebagai ibu, kakak, adik, istri. Perempuan
dalam masyarakat merupakan sosok yang tidak dapat hidup sendiri melainkan
memerlukan orang lain.
“Dasiyah akhirnya membuat pembukuan Merdeka!. Dia jugalah
yang memisahkan antara uang yang harus diputar untuk memproduksi Merdeka! Ini
adalah uang yang tak bisa diganggu gugat dan uang keuntungan yang diperbolehkan
Dasiyah untuk ayahnya bereksperimen dengan kretek-kretek baru dengan campuran
saus baru pula. Dasiyah praktis menjadi kepercayaan Idroes Moeria. Gadis itu
mendapat kecerdasan dari ibunya dan keuletan kerja dari ayahnya. Selain itu,
karena sikap Idroes Moeria yang cenderung memberi kebebasan bagi putrinya,
telah menjadikannya gadis yang mandiri, berani berpendapat. Sebuah kombinasi
yang unik untuk perempuan di zaman itu.” (Ratih Kumala, 2012:140)
Kutipan di atas merupakan pembuktian yang dilakukan oleh
Jeng Yah terkait dengan status yang selama ini melekat dalam diri perempuan
bahwa perempuan tidak memiliki cita rasa yang tinggi terhadap kretek, tidak
seperti apa yang dimiliki laki-laki. Kutipan di atas sekaligus membuktikan
bahwa Jeng Yah melakukan upaya sebagai pembuktian bahwa citra perempuan disini
memiliki sisi tanggung jawab terhadap apa yang menjadi tanggungannya. Hal
tersebut mengikis kekhawatiran masyarakat umum mengenai kredibilitas perempuan
yang selama ini menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan jika perempuan dikaitkan
dengan kepemimpinan, terutama dalam hal publik domestik.
2.
Perjuangan Kesetaraan Gender
Novel
Gadis Kretek karya Ratih Kumala mendeskripsikan perjuangan kesetaraan gender
lewat tokoh-tokoh perempuan yang ada di dalamnya.
Kretek
Kretek
merupakan rokok yang
menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan
saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Pada umumnya kretek hanyalah salah
satu dari banyaknya jenis rokok yang ada. Namun, kretek lebih dari itu, kretek adalah
ikon dari budaya asli Indonesia (Setyawan, 2018: 81).
Dalam novel Gadis Kretek, kretek bukan
hanya sekedar sebuah benda yang dinikmati ketika senggang ataupun sebuah benda
yang diasumsikan sebagai ikon kebudayaan, kretek di sini berperan penting dalam
pembentukan cerita, serta merupakan poros seluruh tokoh dalam novel, kretek
juga merupakan sumber penghidupan utama dari tokoh dalam cerita, bahkan kretek
juga simbol dari perjuangan yang dilakukan oleh tokoh perempuan dalam novel.
Kretek adalah kehidupan, keseluruhan isi novel menggunakan kretek sebagai
benang merahnya, sesuai dengan judulnya, “Gadis Kretek”, kretek merupakan
sumber devisa masyarakat Indonesia dan juga sumber mata pencaharian di kota
Kudus dan kota M (dalam novel).
Selain itu, kretek juga merupakan saksi
dan simbol perjuangan tokoh wanita dalam novel menjalani kehidupan. Sosok Jeng
Yah (Dasiyah) merupakan tokoh utama yang secara tidak langsung melakukan
perjuangan kesetaraan gender. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan
dibentangkan dalam novel ini melalui tokoh Dasiyah atau Jeng Yah. Dimana tokoh
Jeng Yah digambarkan sebagai tokoh yang lincah, gesit, berpengetahuan dan
mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk memimpin sebuah perusahaan besar.
Melalui kretek yang dihisapnya, penulis juga mau menyampaikan bahwa hak untuk
merokok atau melinting kretek adalah hak laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat
dilihat dalam kutipan teks novel di bawah ini;
“Siapa yang tak
mengenal Dasiyah, kembang kota M, putri pengusaha kretek nan cantik jelita. Ia
adalah gadis ceria yang selalu ramah pada siapa pun yang ditemuinya. Senyumnya
tak pernah hilang dari wajah ayunya, seolah senyum itu memang sengaja dipasang
sebagai perhiasan seumpama kalung atau anting-anting. Idroes Moeria tak lagi
khawatir ketika istrinya, Roemaisa tidak melahirkan anak laki-laki. Ia cukup
punya Dasiyah, gadis itu meski sama sekali tak tomboy, tapi punya energy
layaknya anak lakilaki keluarga yang mengambil alih tanggung jawab. Anak
gadisnya itu juga dinilai punya naluri kebijaksanaan yang bagus jika berkaitan
dengan usaha dagang kretek keluarga mereka” (Ratih Kumala, 2012:176).
Kretek juga merupakan salah satu jalan
dimana tokoh perempuan dalam novel mulai menyerukan kesetaraan gender yang
seharusnya dirasakan olehnya, melalui kretek Jeng Yah (Dasiyah) mulai melakukan
perubahan. Pada umumnya posisi pemimpin akan diisi oleh laki-laki, karena
orang-orang berpandangan bahwa perempuan belum mampu melakukan peran-peran yang
biasa dilakukan oleh laki-laki, seperti mencari nafkah hingga memimpin suatu
perusahaan. Orang-orang berpandangan bahwa perempuan ranahnya hanya pada
pekerjaan rumah tangga. Padahal lebih dari itu, perempuan juga mampu berperan
lebih seperti yang dilakukan oleh laki-laki, seperti yang tergambar dalam novel
“Gadis Kretek”, penulis
dalam novelnya ini meletakkan posisi tokoh Jeng Yah sebagai landasan perjuangan
kesetaraan gender, penulis seolah ingin menolak dan mengkritik pandangan
masyarakat bahwa seorang perempuan yang merokok adalah perempuan yang tidak
baik (nakal, terlibat prostitusi) padahal apabila laki-laki yang merokok itu
dipandang sebagai hal yang wajar. Dalam novel ini, semua itu dibantah keras.
Tokoh Jeng Yah digambarkan tokoh yang sangat mengenal kretek, bahkan mahir
dalam mengenali kretek yang bagus atau tidak bagus.
“Dasiyah ternyata diam-diam sudah mencampur-campur sendiri
bermacam bahan saus. Dia mengambil saus Kretek Merdeka! Sebagai dasar, dan
menambahkan beberapa bahan campuran yang menurutnya bisa membuat rasanya lebih
sempurna. Dasiyah begitu memikirkan rasa suka para pemodal akan kretek
lintingannya, yang dibilang lebih manis, lebih gurih, lebih harum. Juga
campuran sari kretek yang membuat tingwe itu jelas lebih enak. Dasiyah telah
mencampur beberapa bahan saus sedemikian rupa, dan berusaha mendekati rasa
tingwe bikinannya.” (Ratih Kumala, 2012: 150).
“Pak Joko dan iparnya pergi setelah beramah tamah dengan
Dasiyah. Gadis itu adalah rekan diskusi yang seimbang dalam hal kretek. Dan itu
sebenarnya cukup meyakinkan Pak Joko dan iparnya untuk memberi modal.” (Ratih
Kumala, 2012: 143).
Dasiyah
juga menggambarkan sosok perempuan yang dapat mematahkan stereotip bahwa
perempuan hanya dapat mengikuti perintah orang lain tanpa bisa memilih apa yang
ia inginkan. Perempuan juga bisa melakukan suatu hal yang membanggakan bagi dirinya
sendiri ataupun orang lain, sama seperti yang kebanyakan laki-laki lakukan.
“Idroes Moeria tak lagi khawatir ketika istrinya, Roemaisa,
tak melahirkan anak laki-laki. Ia cukup punya Dasiyah, gadis itu meski sama
sekali tak tomboi, tapi punya energi layaknya anak laki-laki keluarga yang
mengambil alih tanggung jawab. Anak gadisnya itu juga dinilai punya naluri dan
kebijaksanaan yang bagus jika berkaitan dengan usaha dagang kretek keluarga
mereka.” (Ratih Kumala, 2012: 176)
“Bagi Jeng Yah, hidupnya telah lengkap. Ia punya usaha
Kretek Gadis yang demikian maju. Kretek Merdeka! Pun hingga kini masih terus
berproduksi dengan ciri khas papiernya yang berwarna merah. Ia punya keluarga
yang menyayanginya.” (Ratih Kumala, 2012: 201)
“Penjualan Kretek Gadis meroket, seiring dengan Dasiyah
makin rajin mengikutsertakan kretek itu pada pasar malam-pasar malam yang
diadakan di waktu-waktu tertentu. Tidak Cuma di Kota M, tapi juga di
Jogyakarta, Magelang, Solo, Kudus, Lampung, Banyuwangi, dan Kalimantan.” (Ratih
Kumala, 2012: 153)
Kesetaraan
gender dalam novel Gadis Kretek dideskripsikan dengan penggambaran posisi
perempuan (tokoh Dasiyah) dan laki-laki (tokoh Soeraja) yang setara dalam
mengambil keputusan dan membuat pilihan-pilihan tanpa dibatasi oleh stereotip laki-laki
dan perempuan. Selain itu, dideskripsikan juga kebebasan tokoh Dasiyah dalam
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dalam memimpin dan mengelola
perusahaan tanpa dibatasi oleh anggapan dan stereotip bahwa perempuan itu
cenderung emosional, pasif, lemah, ataupun anggapan bahwa laki-laki itu
cenderung rasional, aktif, kuat, dan sebagainya. Adapun, kebebasan yang
dimiliki Dasiyah didukung oleh orang-orang yang ada di sekitarnya seperti
keluarga dan kekasihnya. Keluarga dan kekasihnya tidak pernah mempermasalahkan
keputusan ataupun pilihan yang dibuat oleh Dasiyah dalam mengembangkan
kemampuannya mengelola dan memimpin perusahaan. Bahkan, mereka memercayakan
pengelolaan perusahaan secara sepenuhnya kepada Dasiyah.
3.
Representasi Perempuan dan Kebebasan
Rara Mendut
Rara Mendut adalah cerita rakyat
klasik yang merupakan salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi
(teks
Jawa kuno). Kisah ini menceritakan perjalanan hidup dan tragedi cinta seorang perempuan
cantik dari pesisir pantai Kadipaten Pati
(sekarang Kabupaten Pati)
yang hidup pada zaman Sultan Agung. Dalam novel “Gadis Kretek”
terdapat dialog antar tokoh yang menyebutkan bahwa Jeng Yah (Dasiyah) memiliki
kesamaan dengan Rara Mendut, keduanya sama-sama memiliki ludah yang manis.
Adanya
kesamaan Rara Mendut dengan Jeng Yah adalah keduanya dikaitkan memiliki
hubungan dengan kretek. Kretek, tak hanya enak dihisap dan kepulan asapnya
memberikan kenikmatan, menggugah imajinasi, dan inspirasi penikmatnya. Bagi
perempuan, makna kretek tak sederhana sebagaimana dipahami orang. Kretek bukan
saja benda yang terbuat dari tembakau dan cengkeh yang mengeluarkan asap.
Namun, dari kretek histori perempuan dapat dilacak. Tentang perempuan berjasa
yang berani mempertahankan harga diri, membela kehormatan dan kewibawaan wanita
dari praktik dominasi, diskriminasi, dan bahkan hegemoni budaya patriarki dan
kultur masyarakat feodal, serta superioritas laki-laki. Itu artinya, kretek
punya kisah penting dengan perempuan dalam lembaran sejarah kebudayaan bangsa
Indonesia. Sejarah dibentuk karena realitas sosiologis. Kontak sejarah sehingga
memunculkan karakter perempuan yang berbeda.
“Tapi tidak bisa bikin tingwe seenak
ini,” Idroes Moeria memotong.
“pertama, ini isinya sari kretek yang hanya bisa didapat
dari sisa melinting sehari. Kedua, kalau yang ngelinting bukan Iyah ya beda
rasanya.”
“Kamu ngelem ini pakai idhu-mu ya?” “iya.” Dasiyah
mengangguk kecil.
“Kamu seperti Rara Mendut, idhu-mu
legi.” Ludah yang manis. (Ratih, 2012: 143)
Kutipan
di atas menjelaskan bahwa kesamaan yang dimaksud dalam hal ini adalah sama-sama
memiliki ludah yang manis. Kesamaan tersebut lah yang kemudian membuat Jeng Yah
dihubungkan dengan Rara mendut. Dalam penceritaannya juga terdapat konteks yang
memiliki kesinambungan dengan kejadian yang terjadi dalam cerita Rara Mendut.
Penyisipan gambaran mengenai Jeng Yah yang mirip dengan Rara Mendut memiliki
makna tersendiri. Keduanya sama-sama melihat sudut pandang kretek sebagai suatu
cara untuk mencapai kebebasan yang diinginkannya. keduanya sama-sama memiliki
sifat yang berani terhadap sistem yang mengungkung kebebasan mereka sebagai
perempuan. berangkat dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa Jeng Yah dan Rara
Mendut sebagai gambaran perempuan dengan kebebasan.
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang
telah dilakukan, pada novel Gadis Kretek dapat disimpulkan bahwa
Perempuan memiliki citra dalam
keluarga dan masyarakat. Pertama, dalam ranah keluarga, perempuan berperan
sebagai ibu. Ibu sungguh sangat dibutuhkan untuk menjaga pondasi antara anak
dengan keluarga. Hal tersebut dikarenakan seorang wanita memiliki naluri
sebagai ibu yang kuat terhadap anaknya. Kedua, sebagai makhluk sosial, citra
sosial perempuan menunjukkan peran perempuan dalam kehidupannya, yaitu berperan
dalam keluarga dan masyarakat. Perempuan mengambil bagian dalam keluarga
sebagai ibu, kakak, adik, istri. Perempuan dalam masyarakat merupakan sosok
yang tidak dapat hidup sendiri melainkan memerlukan orang lain.
Kesetaraan gender dalam novel Gadis
Kretek dideskripsikan dengan penggambaran posisi perempuan (tokoh Dasiyah) dan
laki-laki (tokoh Soeraja) yang setara dalam mengambil keputusan dan membuat
pilihan-pilihan tanpa dibatasi oleh stereotip laki-laki dan perempuan. Selain
itu, dideskripsikan juga kebebasan tokoh Dasiyah dalam mengembangkan kemampuan
yang dimilikinya dalam memimpin dan mengelola perusahaan tanpa dibatasi oleh
anggapan dan stereotip bahwa perempuan itu cenderung emosional, pasif, lemah,
ataupun anggapan bahwa laki-laki itu cenderung rasional, aktif, kuat, dan
sebagainya. Adapun, kebebasan yang dimiliki Dasiyah didukung oleh orang-orang
yang ada di sekitarnya seperti keluarga dan kekasihnya. Keluarga dan kekasihnya
tidak pernah mempermasalahkan keputusan ataupun pilihan yang dibuat oleh
Dasiyah dalam mengembangkan kemampuannya mengelola dan memimpin perusahaan.
Bahkan, mereka memercayakan pengelolaan perusahaan secara sepenuhnya kepada
Dasiyah.
Penggambaran kebebasan dalam novel
Gadis Kretek digambarkan melalui persamaan Jeng Yah dan Rara Mendut. Penyisipan
gambaran mengenai Jeng Yah yang mirip dengan Rara Mendut memiliki makna
tersendiri. Keduanya sama-sama melihat sudut pandang kretek sebagai suatu cara
untuk mencapai kebebasan yang diinginkannya. keduanya sama-sama memiliki sifat
yang berani terhadap sistem yang mengungkung kebebasan mereka sebagai
perempuan. berangkat dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa Jeng Yah dan Rara
Mendut sebagai gambaran perempuan dengan kebebasan.
DAFTAR PUSTAKA
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik sastra feminis: sebuah pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Febrianti, Rizki & Kulup, Luluk Isani.
2019. PERAN WANITA DALAM NOVEL TENAGA KERJA ISTIMEWA KARYA NAIQUEEN. Jurnal Ilmiah Buana Bastra, 6(1), 52-59. https://doi.org/10.36456/bastra.vol6.no1.a3600
Gusmansyah, Wery. 2019. Dinamika
Kesetaraan Gender dalam Kehidupan Politik Di Indonesia. Jurnal Hawa: Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak, 1(1).. http://dx.doi.org/10.29300/hawapsga.v1i1.2233
Hutagalung, Trisnawati. 2015. Kajian
Cerpen “Pengadilan Terakhir” Karya Triyanto Triwikromo dan Nilai Edukatif
(Pendekatan Feminisme). Jurnal Bahas Unimed, 26(3), 76427. https://doi.org/10.24114/bhs.v26i3.5583
Lestari, Diah Ajeng. 2016. Perempuan dan Kretek dalam Novel Gadis Kretek Karya Ratih
Kumala
(Doctoral dissertation, Universitas Airlangga). http://lib.unair.ac.id
Maftuhah.
2019. Perjuangan Kesetaraan Gender Tokoh Wanita dan Nilai Pendidikan dalam
Novel Gadis Kretek Karya Ratih Kumala. Annaba:
Jurnal Pendidikan Islam, 5(1), 55-62.
Nugraha, Dipa. 2020. Pendekatan Sosiologi
Feminis dalam Kajian Sastra. Undas: Jurnal Hasil Penelitian
Bahasa dan Sastra,
16, 341-54. https://doi.org/10.26499/und.v16i2.2807
Prayogi, Rahmat. 2020. CITRA WANITA DALAM
NOVEL GADIS KRETEK KARYA RATIH KUMALA. KATA
(Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya), 8(1), 1-6. http://repository.lppm.unila.ac.id/id/eprint/20239
Rahmayati, Rahmi. 2016. Prosiding Seminar Nasional Perempuan dan Perlindungan Anak. Surabaya: Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Surabaya.
Kumala,
Ratih. 2012. Gadis Kretek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Setyawan, Agus. 2018. Kretek sebagai
Budaya Asli Indonesia: Telaah Paradigmatik terhadap Pandangan Mark Hanusz
Mengenai Kretek di Indonesia. Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial, 1(01), 67-85. https://doi.org/10.5281/zenodo.3545039
Simanungkalit, Amelia. 2020. Novel Gadis
Kretek Karya Ratih Kumala Kajian Feminisme dan Nilai-Nilai Pendidikan. Jurnal Komunitas Bahasa, 8(2), 41-47. http://www.jurnal.una.ac.id/index.php/jkb/article/view/1725
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Komentar
Posting Komentar