Analisis Puisi Berjudul SAYANG HEULANG ;kenangan kepada IAR Karya Nita Widati Efsa

 


SAYANG HEULANG

 ;kenangan kepada IAR

oleh Nita Widati Efsa

 

Suratku kepada karang tidak untuk membalas suratmu

Karena kau tak setegar dan segarang dia memandang hidup

Lihatlah gemingnya seperti patung, semadinya kukuh di atas luka

Sunyi yang memenjarakan telah menjadi karib di hidupnya

 

Suratku kepada ombak tidak untuk menjawab pertanyaanmu

Karena dia selalu datang dan pergi dengan ribuan pesan dibawanya

Sementara kau satu pesan pun tak disampaikan dengan baik

Padahal seperti bulan menanti saat malam tiba. Aku menunggu di ketiadaan

 

Suratku kepada pantai tidak untuk melabuhkan rasaku padamu

Karena pasir yang kuinjak dan kugali untuk membangun istana kerajaan

Tidak mengizinkanku mengisi dan menikmati keindahan keagungannya

Dia memilih lebur di kesunyian, berdekapan dengan air masin pembasuh lukanya

 

Suratku kepada heulang tidak untuk menjadikannya mata-mataku padamu

Karena aku melihat dengan mata batin, rasa langit yang berkaca-kaca. 

Saat kau berdiri di bibir tebing. Tajam mata heulang justru menjagamu dari bahla.

Cakar tajamnya akan mengangkatmu aman. Ketika laut surut dan ufuk menyuguhkan jingga temaram

 

 

Suratku kepadamu tidak untuk apa-apa

Karena kutahu kau seperti kelebatan kilat di bentang langit

Gelegarmu bergema di setiap telinga. Lecutanmu menyisakan nyeri perut bumi

Separuh batang kelapa terpenggal. Dan daun hatiku gosong terbakar oleh panasmu

 

Jawab:

1.      a) Tema puisi diatas adalah percintaan.

 

2.      b) Pesan yang ingin disampaikan oleh penulis adalah jangan terlalu dalam ketika kita mencintai seseorang karena orang itu bisa datang dan pergi kapanpun dan dimanapun. Jika kita kehilangan orang itu maka kita akan merasa sakit dan kehilangan. Selain itu penulis juga berpesan kepada kita agar selalu ikhlas terhadap hal yang kurang dinginkan.

 

3.      a) Bunyi dan persajakan

·         Bunyi dan Sajak

- Bait pertama bersajak u,u,a,a

- Bait kedua bersajak u,a,i,a

- Bait ketiga bersajak u,a,a,a

- Bait keempat bersajak u,a,a,a

- Bait kelima bersajak a,i,i,u

 

b) Diksi

·         Makna Denotasi

                        Sementara kau satu pesan pun tak disampaikan dengan baik

 

·         Makna Kias

Cakar tajamnya akan mengangkatmu aman. Ketika laut surut dan ufuk menyuguhkan jingga temaram

 

·         Makna Lugas

Suratku kepada pantai tidak untuk melabuhkan rasaku padamu

 

·         Makna Referensial

Saat kau berdiri di bibir tebing.

 

c) Gaya Bahasa atau Majas

·         Asosiasi

Lihatlah gemingnya seperti patung, semadinya kukuh di atas luka

Padahal seperti bulan menanti saat malam tiba. Aku menunggu di ketiadaan

Karena kutahu kau seperti kelebatan kilat di bentang langit

 

d) Imaji/Citraan

·         Citraan Pengelihatan (Visual Imagery)

Karena kau tak setegar dan segarang dia memandang hidup

Lihatlah gemingnya seperti patung, semadinya kukuh di atas luka

Padahal seperti bulan menanti saat malam tiba. Aku menunggu di ketiadaan

Karena aku melihat dengan mata batin, rasa langit yang berkaca-kaca.

 

·         Citraan Pendengaran (Audiotory Imagery)

Sunyi yang memenjarakan telah menjadi karib di hidupnya

Dia memilih lebur di kesunyian, berdekapan dengan air masin pembasuh lukanya

Gelegarmu bergema di setiap telinga.

 

·         Citraan Perabaan (Tactile Imagery)

Separuh batang kelapa terpenggal. Dan daun hatiku gosong terbakar oleh panasmu

 

·         Citraan Penciuman (Olfactory)

Separuh batang kelapa terpenggal. Dan daun hatiku gosong terbakar oleh

Panasmu

 

·         Citraan Pencecapan (Gustastory)

Dia memilih lebur di kesunyian, berdekapan dengan air masin pembasuh lukanya

 

·         Citraan Gerak (Kinaesthetic Imagery)

Karena dia selalu datang dan pergi dengan ribuan pesan dibawanya

Karena pasir yang kuinjak dan kugali untuk membangun istana kerajaan

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Karya Amir Hamzah Berjudul "Padamu Jua"

Analisis Iklan Air Mineral "Aqua" Pada Televisi

Analisis Puisi Berjudul "Serenada Hijau" Karya W.S Rendra