Analisis Alur dalam Cerpen “Matinya Seorang Demonstran” Karya Agus Noor

 

Analisis Alur dalam Cerpen “Matinya Seorang Demonstran” Karya Agus Noor

Disusun oleh:

Fahryan Andria Putra 20201244045

PENDAHULUAN

Karya sastra merupakan kreativitas seseorang terhadap ide, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya. Karya sastra juga merupakan hasil imajinasi manusia yang mengambil kehidupan manusia sebagai sumber inspirasinya. Sastra yang lahir di masyarakat akan menampilkan profil kehidupan dengan beraneka macam persoalan. Karya sastra dikenal dalam dua bentuk, yaitu fiksi dan nonfiksi. Jenis karya sastra fiksi adalah prosa, puisi, dan drama. Sedangkan contoh karya sastra nonfiksi adalah biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra. Karya sastra ditulis melalui bahasa yang artistic melalui proses imajinatif. Walaupun karya sastra merupakan hasil khayal yang ditulis oleh seorang pengarang, namun kebanyakan dari mereka menulis pengalaman mengenai apa yang terjadi di sekitarnya.

Bentuk karya sastra salah satunya yaitu cerpen (cerita pendek). Sukirno (dalam Riris S, Khabib S, dan Umi Faizah: 2018) menyatakan bahwa cerita pendek atau disingkat cerpen adalah cerita yang isinya mengisahkan peristiwa pelaku cerita singkat dan padat, tetapi mengandung kesan yang mendalam.  Cerpen berfungsi untuk mengajarkan pembaca akan nilai-nilai kehidupan. Penulis cerpen menjelaskan tentang permasalahan kehidupan dengan cara yang khas. Pesan yang hendak disampaikan oleh penulis disembunyikan dalam simbol-simbol bahasa.

Analisis sastra bertujuan untuk memahami secara baik makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Selain itu, analisis sastra berfungsi untuk membantu pembaca dalam memahami karya. Dalam latar belakang pembahasan tersebut, penulis mengambil sebuah cerpen yang berjudul “Matinya Seorang Demonstran” karya Agus Noor untuk dianalisis karena memuat beberapa unsur, salah satunya adalah alur.

 

 

 

 

 

ANALISIS ALUR DALAM CERPEN MATINYA SEORANG DEMONSTRAN

Alur

-          Ditinjau dari segi penyusunan peristiwa

Cerpen “Matinya Seorang Demonstran” menggunakan alur campuran. Karena awal cerita menceritakan suasana sekarang ketika tokoh Ratih kembali melewati jalan Munarman yang penuh kenangan. Dilanjutkan dengan menceritakan kembali cerita yang pernah dialami tokoh Ratih di masa lampau dan asal mula penggantian nama jalan. Kemudian kembali lagi pada suasana sekarang ketika tokoh Ratih tidak mau melewati jalan itu lagi.

-          Ditinjau dari segi akhir cerita

Alur yang terdapat pada cerpen ini adalah alur tertutup. Pada akhir cerpen diceritakan bahwa tokoh Ratih kehilangan dua laki-laki yang ia cintai, yaitu Eka dan Arman. Eka menghilang tanpa jejak setelah demonstrasi berlangsung dan Arman meninggal tertembak peluru nyasar saat melewati demonstrasi tersebut. tokoh Ratih memutuskan untuk pergi dari kota itu untuk melupakan kenangan pahit yang ia alami. Hanya sesekali ia pulang untuk menengok ibunya, namun tidak mau lagi melewati jalan tersebut.

-          Ditinjau dari segi kuantitasnya

Cerpen di atas termasuk ke dalam alur jamak. Terdiri dari dua peristiwa primer, yaitu saat tokoh Ratih kembali ke jalan tersebut (alur maju) dan saat tokoh Ratih mengingat kejadian dan kenangan yang ada pada jalan itu (alur mundur).

-          Ditinjau dari segi kualitasnya

Cerpen di atas termasuk ke dalam alur longgar, karena dalam cerpen ini dapat disisipkan alur lain. Misalnya, tokoh Eka dapat ditemukan atau kembali setelah beberapa tahun kemudian dan menemui tokoh Ratih.

 

Tahapan alur:

a.         Eksposisi

Pada tahap ini dipaparkan tokoh Ratih dan Eka. Ratih sebagai tokoh utama, menceritakan bagaimana keadaan jalan yang memberinya keperihan saat mengingat kejadian kala itu. Walaupun waktu telah berlalu dan membuat perubahan, namun kenangan tidak pernah berubah.

b.         Instabilitas

Dalam tahapan ini muncul konflik, dimulai saat tokoh utama mengenal Eka, ia seorang penulis hingga aktivis. Tokoh utama mulai mencintai Eka, padahal dia memiliki pacar bernama Arman

c.         Komplikasi

Konflik-konflik mulai memuncak kadar intensinya ketika terjadi demonstrasi mulai dilakukan secara besar-besaran di mana-mana. Terjadi bentrokan antara mahasiswa yang memerjuangkan keadilan dan kebebasan dan aparat yang mengekangnya. Ratih dan Eka berjuang sampai malam untuk menyebarkan selebaran. Arman mulai menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kelakuan mereka berdua.

d.         Klimaks

Puncak konflik terjadi saat Ratih dan Ibunya sedang makan malam, sementara di luar dekat rumah mereka terjadi bentrokan antara mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi dengan aparat keamanan. Banyak mahasiswa yang berlari ke gang-gang dan bersembunyi di rumah-rumah warga. Dalam bentrokan itu, Eka turun tangan sebagai salah satu mahasiswa yang memandang sinis terhadap kebijakan pemerintah yang seakan tidak mau mendengar dan melihat keadaan rakyatnya.

e.         Penyelesaian

Tokoh Arman, kekasih Ratih, tewas tertembak peluru nyasar dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah Ratih. Setelah bentrokan selesai pun Eka tak kunjung ada kabar. Ia menghilang tanpa jejak. Kemudian Ratih memilih untuk pergi dari kota itu, agar rasa perih teramat dalam atas hilangnya dua orang yang ia cintai di hidupnya itu dapat hilang. Hanya sesekali ia pulang ke kota itu untuk menengok ibunya. Sepulangnya ia ke kota itu, Ratih kembali melewati jalan yang penuh kenangan pahit tersebut. Ratih tersenyum pilu ketika mendapati nama jalan yag dahulunya Jalan Sutomo kini telah berganti menjadi Jalan Munarman, nama kekasihnya

 

.

 

CARA PANDANG HIDUP YANG SINIS ATAU KRITIS

Hidup memang sebuah perjalanan di mana manusia tumbuh di dalamnya. Mempunyai pemikiran yang tidak baik pada hidup, selalu berpikiran negatif merupakan suatu kesalahan yang dapat membuat pernyataan bahwa hidup memang berat dan membosankan. Seperti dalam cerpen yang berjudul “Matinya Seorang Demonstran”, tokoh Eka yang mempunyai pemikiran yang kritis terhadap kehidupan yang dijalaninya. Yang berbeda dengan pemikiran dari sosok ratih yang menganggap bahwa dirinya tidak setuju dengan pernyataan yang disampaikan oleh Eka. Dia yang berpikiran kritis penuh dengan dugaan yang mempunyai pikiran lain bahwa ada cadangan kemungkinan terburuk yang akan terjadi di dunia. Pemikiran yang sinis terhadap kehidupan cenderung akan membuat berbagai pikiran negatif dan semangat hidup menurun. Maka dari itulah perlu dibedakan dengan berpikiran kritis yang mana tidak hanya mengkritik kehidupan yang memang berjalan sebagai mana mestinya. Perlunya berpikir secara luas dan jauh ke depan adalah salah satu cara menjalani hidup dengan lebih baik.

PENUTUP

Dalam Cerpen karya Agus Noor berjudul “Matinya Seorang Demonstran” ini tercetak jelas bagaimana perjuangan para mahasiswa dalam mencapai keadilan dan hakiki. Dalam cerpen ini banyak terkandung nilai-nilai kehidupan yang sangat baik di dalamnya. Cerpen ini menceritakan seorang wanita yang terjebak dalam dua pria yang mencintainya namun keduanya saling bertolakbelakang. Eka dengan segala kesederhanaanya dan kebesaran jiwanya. Dan Arman dengan seluruh kekayaan dan keberuntungannya. Dalam cerpen ini memang tidak condong ke arah percintaan Ratih, Eka, dan Arman namun lebih menceritakan bagaimana Ratih bersama Eka yang berjuang demi keadilan. Hingga akhirnya Ratih ditinggal oleh kedua lelaki tersebut. Matinya Arman dengan segala penghormatan atas kematiannya dan lenyapnya Eka. Cerpen  Matinya Seorang Demonstran” karya Agus Noor telah dianalisis dengan menggunakan pendekatan struktural dan semiotik. Sehubungan dengan itu, cerpen “Matinya Seorang Demonstran” karya Agus Noor memiliki struktur intrinsik bagaimana umumnya cerpen dan terdapat enam simbol-simbol di dalamnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Noor, Agus. 2014. Matinya Seorang Demonstran. Terbit di kompas, edisi minggu 26 Januari 2014. Sumber: https://ilhamqmoehiddin.files.wordpress.com/2015/01/e-book_kumpulan-cerpen-kompas-2014.pdf 

Puspitasari, A. 2017. Hubungan Kemampuan Berfikir Kreatif dengan Kemampuan Menulis Cerpen (Studi Korelasi pada Siswa SMA Negeri 39 jakarta).

Saniati, Riris, dkk. 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Picture and Picture dalam Menulis Cerpen pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Puring Kabupaten Kebumen Tahun Ajaran 2017/2018. Surya Bahtera. 6 (50).

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Karya Amir Hamzah Berjudul "Padamu Jua"

Analisis Iklan Air Mineral "Aqua" Pada Televisi

Analisis Puisi Berjudul "Serenada Hijau" Karya W.S Rendra