Cerpen Tentang Kemanusiaan
SUATU
HARI DI KEDAI KOPI
Fahryan
Andria Putra
Halo.
Namaku Ara. Lengkapnya tidak begitu penting. Dan aku sudah merasa cukup sukses
dalam hidup ini.
Bagaimana
tidak? Umurku baru menginjak usia 20 tahun, namun aku sudah memiliki sebuah
kedai kopi di tengah kota. Menjadi sukses di usia muda, membuatku mendapatkan
pujian dan apresiasi dari keluargaku, sahabatku, teman-temanku, hingga para
pengunjungku. Namun, setelah Covid-19 yang seakan menyelimuti dunia ini, kedai
yang tadinya begitu ramai dengan suasana hangatnya, menjadi begitu sepi,
senyap dan mati.
***
Suara
mesin grinder, aroma kopi, kembali menghidupkan tempat ini. Aku menghirup
nafasku dalam, bersiap memulai kembali kesuksesanku. Namun, pada kenyataannya
menghidupkan sesuatu yang telah mati, bukan suatu hal yang mudah. Sudah satu
minggu kedai ini kembali beroperasi, akan tetapi hanya ada dua jiwa yang
memenuhi tempat ini, aku dan Awan, sang barista.
“Apa
kali ini kita beneran tutup aja ya? Dana darurat juga udah gue pake, sedangkan
selama seminggu ini engga ada pendapatan yang masuk sama sekali.” aku menatap
Awan yang masih fokus terhadap karyanya, menggiling kopi-kopi itu dan
meraciknya.
“Ara
yang gue kenal engga pernah menyerah semudah ini. Lebih baik lu minum ini dulu,
resep baru nih.” Awan tersenyum dan menyodorkan secangkir kopi yang baru saja
dibuatnya.
Aku
menyesapnya pelan, hingga kopi itu memasuki tenggorokanku dan mematikan
perasaku.
“Pahit.”
“Coba
diteguk sekali lagi Ra.” aku merasa ragu, tak ingin mencoba kembali ‘resep baru’
Awan, namun aku tetap meminumnya, dan aku merasakan manis.
“Kehidupan
seperti itu Ra, awalnya mungkin terasa pahit. Jika kau kembali mencobanya,
mungkin saja kau akan merasakan rasa pahit lagi, namun bisa saja kau merasakan
manis seperti saat ini.” aku tersenyum mendengar kata Awan.
Laki-laki
itu benar, mungkin saat ini aku sedang merasakan pahitnya kehidupan. Aku
menyesap kopiku sambil menatap ke luar jendela, memperhatikan seorang anak
kecil yang sudah satu minggu ini duduk di depan kedaiku. Entah bagaimana, aku
melangkah keluar dan berjongkok di hadapannya.
“Kamu
sedang apa?” tanyaku sambil tersenyum, mencoba bersikap ramah.
Anak
kecil itu terkejut dan menjatuhkan ponselnya. “Ma-ma-maaf kak.” Dia terbata,
tangannya gemetar, seperti tertangkap basah sedang mencuri. “Kenapa minta maaf?
Disini panas, engga mau masuk ke dalam?” Aku menarik pelan lengannya,
mengajaknya masuk ke kedaiku.
“Awan,
buatin satu gelas susu sama bawain cemilan ya.” teriakku kepada Awan.
“Nama
kamu siapa? Namaku Ara, yang punya kedai ini.” lagi-lagi aku mencoba bersikap
ramah agar anak kecil di hadapanku tidak lagi menampilkan wajah ketakutannya.
“Aku
Cira kak.” senyumnya tipis dan matanya tak berani melihat ke arah wajahku.
“Kamu
kenapa? Tadi kayanya lagi main games ya di handphone?” aku menatapnya lembut
dan sedikit melirik ke keranjang besar yang dibawa Cira.
“Sekolah
online kak.” Cira menggigit bibir bawahnya, aku tidak mengerti mengapa gadis
ini sangat terlihat ketakutan.
“Wah
sekolah online? Kalau gitu, lanjut aja sekolahnya di sini, jangan di depan,
panas.” Awan yang telah datang menyodorkan susu dan kue yang telah
disiapkannya.
“Supaya
Cira semakin semangat, ini diminum dan dimakan yaa. Semangaaaaat!”
Aku
menatap Cira yang sedang bersekolah. Wajahnya terlihat semangat dan beberapa
kali ku lihat bibirnya mengukir senyuman. Tak terasa sudah dua jam berlalu.
Cira menghampiriku dengan keranjang besar yang dibawanya.
“Terima
kasih Kak Ara, susu dan kuenya enak.” Cira tersenyum malu-malu.
“Kak,
Cira mau minta maaf. Sebenarnya, satu minggu ini Cira pakai wifi kedai Kak Ara.
Hasil jualan pempek Cira engga cukup untuk beli kuota kak. Cira mau tetap
sekolah, mau belajar sama temen-temen yang lain, mau jadi orang yang pinter
supaya bisa sukses. Maafin Cira ya kak, besok-besok Cira engga akan
mengulanginya kok.” aku terkejut mendengar kata-kata tersebut dari seorang
gadis kecil yang mungkin belum berusia 10 tahun.
Aku
menahan tangis, mencoba tersenyum dan membelai lembut rambutnya.
“Cira
boleh kok tiap hari kesini buat sekolah online. Masuk aja, duduk di salah satu
kursi yang kosong. Jangan di depan, panas kan. Nanti Cira bisa sakit juga
karena kena debu.” mata kecilnya terlihat berbinar-binar, tangannya
merengkuhku, mendekapku dengan hangat dan berkali-kali mengucapkan terima
kasih.
***
Sudah
satu bulan kedai ini kembali hidup. Pengunjung yang biasanya mayoritas seorang
pekerja atau mahasiswa, sekarang menjadi tempat untuk anak-anak di daerah ini
bersekolah. Semangat, mimpi, dan harapan, terpatri jelas di wajah mereka semua.
Senyuman indah karena kedai ini, membuat hatiku terenyuh dan membara.
Mendampingi dan membantu mengajari anak-anak tersebut merupakan anugerah
terindah yang pernah aku miliki dan aku bersyukur bertemu Cira pada siang itu.
Seorang gadis yang tidak menyerah, seorang anak kecil yang semangat untuk terus
berprestasi. Covid-19 tidak dapat memutuskan harapan dan mimpi anak-anak itu,
karena masih ada kata semangat dan berjuang untuk terus berprestasi. Ketika kau
merasa hidupmu pahit, maka cobalah kembali hingga mendapatkan rasa yang kau
inginkan. Berjuanglah seperti Cira, yang tak pernah putus asa dengan keadaannya
yang terbatas dan terus berjuang untuk menggapai mimpinya.
Ternyata,
kesuksesanku bukanlah saat memiliki sebuah kedai kopi di tengah kota, melainkan
menjadi manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain. Karena pada dasarnya,
sebaik-baiknya seorang manusia, adalah orang yang dapat berdampak positif serta
bermanfaat bagi lingkungan, termasuk orang-orang di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar