Utopi ’Wanita Modern dan Terdidik’
Utopi ’Wanita Modern dan Terdidik’ “Bukan karena ingin menjadi perempuan-perempuan pejuang maka seseorang harus meninggalkan perjuangan kelas atau mengelakkannya, tapi dia harus membukanya, menyobeknya, mendorongnya, mengisinya dengan perjuangan fundamental untuk mencegah perjuangan kelas atau perjuangan apa saja yang lain untuk memerdekakan suatu kelas atau orang dari berperan sebagai agen penindasan, berdalih untuk menunda perubahan yang tak terhindarkan dan mengejutkan dalam relasi kekuatan dan produksi individualitas”. (Cixous, dikutip dalam OTM, 158) 3 „Anatomi adalah takdir‟ begitu menurut Freud (Morton, 2008:205).
Perbedaan biologis antara wanita dan pria menjadi perbedaan yang sifatnya materil atau bisa di-indra. Jenis kelamin sebagai takdir manusia akan sangat adaptif terhadap perkembangan sosialnya masing-masing.Termasuk kemunculan feminsime yang secara jelas memperjuangkan kaum perempuan. Dalam masyarakat patriarkal, Fanon mencoba membaca sebuah skema feminisme yang mengindikasikan kesinambungan antara kaum perempuan dan subjek yang terjajah. Skemanya menjadikan wanita sebagai subjek yang melihat dirinya sendiri dilihat oleh laki-laki. Akhirnya, para feminis menjadikan konsep wanita sebagai objek-objek karena feminisme pun didefinisikan begitu (Loomba, 2003:209).
Lewat pengertian tersebut, akhirnya kolonialisme ikut mempengaruhi sendinya. Kolonialisme yang seperti disebutkan sebelumnya, juga ikut mengiksi keberadaan gender, termasuk mengikis praktik yang sadar perempuan. Malah semakin memperkuat subordinasi perempuan(Loomba, 2003:216). Inilah yang menurut Spivak sebagai feminisme terdekolonisasi (Morton, 2008:209) Bentuk feminisme terdekolonisasi sangat tampak pada perjuangan pihak yang terjajah. Perjuangannya tidak hanya melawan kolonialisme, menurut Loomba, melainkan juga melkukan perlawanan terhadap struktur sosial pribumi. Perempuan terjajah disibukkan untuk lebih sering memecahkan dilema antar keduanya dan menyatakan diri(2003:222). Tulisan-tulisan feminisme banyak tersedia di era modern ini, juga termasuk yang berkaitan dalam kajian pasca kolonial. Namun yang disayangkan pembahasannya masih terpisah-pisah. Belum secara fokus terdapat karya sastra beraroma khusus perempuan. Cerpen Mimpi dan Kebebasan mencoba memberikan fokus feminsime sebagai Ratna Sulastriningsih sebagai tokoh utamanya. Pada pembahasan ini, akan dijabarkan menjadi beberapa tahapan, agar memudahkan pembaca. Tafsir atas karya sastra dibagi menjadi beberapa sub bab yang menjadikan alur dari awal mula konsep pemikiran feminisme hingga akhir. Selengkapnya akan dijabarkan dalam baris di bawah ini.
Komentar
Posting Komentar