Peristiwa Penting dalam Sejarah Sastra Indonesia

 

Peristiwa Penting dalam Sejarah Sastra Indonesia

Sastra Indonesia ialah sastra berbahasa Indonesia yang sudah berkembang abad ke-20 sebagaimana tampak penerbitan pers dan buku, baik dari usaha swasta maupun pemerintah kolonial. Konsep tersebut tentunya terbuka untuk diperdebatkan oleh siapa saja baik peneliti, sastrawan, maupun penikmat sastra. Corak sastra baru yang muncul pertama kali yaitu penceritaan kembali kisah-kisah lama dengan bahasa yang hidup dalam masyarakat pada waktu itu. Kebiasaan untuk menceritakan kembali kisah-kisah lama dalam bahasa sehari-hari ini kemudian berkembang sampai tahun 1880-an. Sampai tahun 1900-an sebenarnya masih banyak penulis jawa yang masih bekerja dengan cara itu, yakni dengan menceritakan kembali kisah-kisah lama, dan memuncak pada zaman permulaan Balai Pustaka. Masa peralihan yang berlangsung dalam bahasa jawa ini baru mencapai titik akhirnya pada tahun 1920, yakni dengan lahirnya sastra jawa modern yang pertama berbentuk roman berjudul serat riyanto di tulis oleh R.M. Sulardi. Pada tahun 1884 muncul buku dongeng-dongeng nu araneh (dongeng-dongeng yang aneh), angling Darma yang ditulis tahun 1907, sedang R.Prawirakusumah menulis Dongeng-Dongeng Tuladan (dongeng-dongeng teladan) tahun 1911. Bahasa sunda telah mencapai bentuk sastra modern pada tahun 1914. Sedangkan dalam bahasa Melayu tinggi corak sastra modern telah jauh muncul sebelum pertengahan abad 19, ditaindai dengan munculnya buku-buku Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Sastra melayu yang berkembang pesat menjadi sastra modern adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Melayu-rendah yang berkembang di lingkungan masyarakat Tionghoa yang tinggal di kota-kota di Indonesia.sekitar tahun 1870. Syair-syair yang berisi cerita ditulis dalam huruf latin sampai tahun 1910.

            Kesusastraan Indonesia pada periode awal ditandai dengan di produksinya pergerakan yang disebut “Bacaan Liar” oleh Negara colonial. Bacaan ini mengerakkan kaum kromo-kaum buruh dan kaum tani tak bertanah untuk melawan penjajah. Pada awal abad ke-20 mulai muncul bacaan yang ditulis oleh bumiputera yang menggunakan bahasa “Melayu pasar” dan menggunakan bahasa lisan sehari-hari, yang terasa lebih spontan dan kadangkadang lebih hidup, lebih bebas dari ikatan tatabahasa. Pada tahun 1920-1926 “bacaan liar mulai membanjiri saat terbukanya celah demokrasi. Pada Kongres IV tahun 1924 di Batavia, PKI mendirikan Kommissi Batjaan Hoofdbestuur PKI. Komisi ini berhasil menerbitkan dan menyebarluaskan tulisan-tulisan serta terjemahan-terjemahan "literatuur socialisme", kemudian runtuhnya “bacaan liar” ini terjadi akibat pentas pergerakan politik yaitu pemberontakan nasional pada tahun 1926/1927. Saat dihanguskannya organisasu radikal oleh dikdaktoral colonial, terjadinya juga pemberangusan produksi bacaan liar. Meskipun berbagai lembaga dihancurkan, tetapi praktik dan gagasan pergerakan yang telah hidup pada tahun 1920-an tetap hidup walau dengan bentuk dan isi yang berbeda.

            Pada tahun 1908 Komisi untuk  Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat adalah cikal bakal Balai Pustaka. Komisi ini didirikan dengan tujuan untuk untuk memerangi “bacaan liar” yang banyak beredar pada awal abad ke-20. Secara sepihak Belanda menyebutnya sebagai Saudagar kitab yang kurang suci hatinya, penerbit tidak bertanggung jawab, agitator dan bacaan liar dan juga memerangi memerangi pengaruh nasionalisme dan sosiolisme yang mulai tumbuh subur di kalangan pemuda pelajar. Tugas komisi tersebut terlalu banyak sehingga pada tahun 1917 pemerintahkolonial Belanda mengubah komisi itu menjadi kantor bacaan rakyat (Kantoor voor de Volkslectuur) atau Balai Pustaka dengan empat bagian di dalammnya : Bagian Redaksi, Bagian Administrasi, Bagian Perputakaan, dan Bagian Pers. Adapun tugasnya adalah memajukan moral dan budaya serta meningkatkan apresiasi sastra. Walaupun didirikan mulai tahun 190 dan diperluas pada tahun 1917 Balai Pustaka mulai produktif pada tahuun 1920-an denganmenghasilkan berbagai macam buku dan majalah. Pada tahun 1930-an Balai Pustaka menjadi penerbit besar karena didukung oleh kekuasaan pemerintah sehingga mampu mendistribusikan ke seluruh Indonesia.

            Pada tahun 1933 Sutan Takdir menerbitkan Majalah Pujangga Baru dengan tujuan pendiriannya untuk menumbuhkan kesusastraan baru. Dalam edisi pertama Pujangga Baru, dinyatakan bahwa majalah yang dikelola Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana itu, untuk sementara terbit dua bulan sekali. Beberapa pengarang yang aktif menulis melalui Pujangga Baru yang karyakarya muncul pada tahun 30-an dan awal tahun 40-an di antaranya Sutan Takdir Alisyahbana Tak Putus dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam, (1932), Tebaran Mega (1935), Layar Terkembang (1937), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Puisi Lama (1941), Puisi Baru (1946), Pelangi (1946), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta Azzura (1970 dan 1971), Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977), Lagu Pemacu Ombak (1978), Amir Hamzah Sebagai Penyair dan Uraian Sajak Nyanyi Sunyi (1978), Kalah dan Menang (1978).

            Pada tahun 1943 Chairil Anwar yang dikenal sebagai penyair muda yang meperkenalkan gagasan baru dalam puisi. Sifatnya individual dan bercorak ke Barat baratan, ia banyak mengejek seniman di kantor pusat kebudayaan pada masa Jepang. Chairil Anwar pandai dalam menggunakan tiga bahasa yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman dengan terampil. Oleh karena itu, penguasaannya terhadap tiga bahasa asing itu yang menjadikan karya-karyanya banyak digunakan sebagai referensi serta diterjemahkan kedalam beberapa bahasa. Tiga kumpulan puisi Chairil, yaitu Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas Putus (1949), atau Tiga Menguak Takdir (1950).

Setelah Angkatan Pujangga Baru, muncul Angkatan 1945 yang keberadaannya dikarenakan sebuah kejadian yang disebabkan karena mengambil dari pengalaman kehidupan serta sebuah sosial-politik, dan juga budaya yang selanjutnya akan mewarnai dunia karya sastrawan yang ada pada Angkatan ’45. Dalam karya sastra angkatan ini, banyak hal-hal yang lebih realistis dibanding dengan Angkatan Pujangga Baru. Didalam Angkatan ini karya sastranya lebih banyak mengungkap bagaimana perjuangan untuk sebuah kemerdekaan rakyat Indonesia yang dapat dilihat dari karya-karya yang dihasilkan oleh Chairil Anwar. Pada Angkatan ’45 ini memiliki sastrawan yang mempuyai sebuah konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Dalam hal ini memiliki sebuah konsep yang memberikan sebuah kebebasan dalam berkarya.

            Dalam perkembangan yang terjadi dalam sastra Indonesia yang berikutnya yakni, adanya Angkatan 50-an yang kemunculannya ditandai dengan adanya sebuah kejadian tentang penerbitan majalah sastra Kisah Asuhan H.B Jassin yang akhirnya ini menjadi ciri Angkatan 50-an yang di dalamnya terdapat ciri di antaranya, dalam karya sastra didominasi oleh cerita-cerita yang pendek dan juga adanya kumpulan-kumpulan puisi. Bukan hanya itu, dalam angkatan tersebut juga mengalami kemunculan sebuah gerakan komunias yang ada dikalangan para sastrawan, yang kemudian mereka tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di dalamnya memiliki konsep sastra yang realisme dan juga sosialis. Dalam periode ini mengalami sebuah perpecahan yang terjadi dan juga adanya polemik yang memiliki jangka yang lama hingga berkepanjangan yang terjadi di antara para sastrawan yang ada di Indonesia yang terjadi pada tahun 1960. Dalam hal ini berakibat tidak adanya kemajuan dalam perkembangan karya sastra yang disebabkan oleh hal tersebut. Dan juga dipengaruhi karena adanya politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S yang ada di Indonesia.

            Pada masa ini, banyak mengalami kejadian yang akhirnya berkepanjangan dan berakibat munculnya sebuah angkatan 1966 sampai 1970-an yang angkatan ini ditandai oleh penerbitan majalah sastra Horison yang dipimpin oleh Mocthar Lubis. Dalam angkatan ini juga terdapat banyak karya sastra yang beragam. Dalam proses Penerbitan Pustaka Jaya yang membantu dalam penerbitan dari karya sastra tersebut. Banyak sastrawan yang masuk ke dalam Angkatan 1950 yang terlibat dalam kelompok tersebut.

            Selanjutnya yaitu periode pengarang kontemporer, Periode ini dimulai dan memiliki ciri-ciri dengan munculnya para penulis muda yang bebas mengeksplorasi bahasa. Pengarang tersebut salah satunya Djenar Mahesa Ayu. dengan karyanya Mereka Bilang, Saya Monyet. Kumpulan cerita pendek yang memuat 11 cerpen ditulis Djenar pada 2001-2002. Sedangkan novel pertamanya adalah Nayla yang mengangkat secara ringan berbagai persoalan penyimpangan seks. Kemudian kumpulan cerpen Jangan Main-main dengan Kelaminmu yang juga mengangkat persoalan seks. Pengarang lainnya ialah Ayu Utami dengan novel Saman yang meraih penghargaaan Dewan Kesenian Jakarta 1997 dan dicetak ulang 22 kali. Sukses Ayu Utami kemudian diikuti Dewi Lestari, novelnya, Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Novel ini merupakan novel Indonesia pertama yang memanfaatkan sains untuk kepentingan fiksi. Tokoh-tokoh dalam novel tersebut berdialog dengan menggunakan istilah sains. Melalui novel Tarian Bumi dan Kenanga ini menggugat tradisi adat, budaya, dan agama yang selalu memojokan posisi perempuan. Dalam Tarian Bumi, tokoh utama Ida Ayu Telaga Pidada, perempuan bangsawan yang karena menikah dengan seorang Wayan, lelaki dari kasta yang lebih rendah, kerap dituding sebagai biang kesialan keluarga. Telaga akhirnya iklas menanggalkan kasta kebangsawanannya dan memilih menjadi perempuan sudra yang utuh.

            Angkatan terakhir dalam perkembangan sastra yang ada di Indonesia ini, adalah Angkatan 2000 hingga pada saat ini. Pada angkatan ini sudah termasuk angkatan modern, angkatan ini ditandai dengan adanya kejadian setelah wacana yang muncul mengenai lahirnya sebuah sastrawan di angkatan Reformasi. Hal ini tidak bisa ditegaskan akibat tidak adanya seseorang yang ditunjuk menjadi seorang juru bicara menegnai hal tersebut. Ditahun 2002 Korrie Layun Rampan membuat sebuah wacana mengenai lahirnya “Sastrawan Angkatan 2000”. Ini merupakan buku yang memiliki ketebalan yang di dalamnya mengangkat mengenai Angkatan 2000 yang dilakukan sebuah penerbitan melalui Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Sejumlah seratus orang sastrawan yang dimakukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000. Pada angkatan ini, karya sastra sudah sangat beragam dan mengikuti perkembangan zaman,pada karya sastra Angkatan 2000 ini tidak memeiliki sebuah keterikatan yang dialami dalam menghasilkan sebuah karya sastra oleh banyaknya aturan misalnya pada bait dan lain sebagainya, menjadikan angkatan ini lebih bebas dalam berekspresi dengan tetap memperhatikan etika yang ada. Pada saat ini, banyak sekali sebuah karya sastra yang diterbitkan lebih kepada penggunaan sebuah bahasa yang cukup sederhana yang memudahkan pembaca mengerti, memahami, serta masuk dalam menikmati karya sastra tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi Karya Amir Hamzah Berjudul "Padamu Jua"

Analisis Iklan Air Mineral "Aqua" Pada Televisi

Analisis Puisi Berjudul "Serenada Hijau" Karya W.S Rendra