Analisis Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono
HUJAN BULAN
JUNI
Tak ada yang
lebih tabah
dari hujan
bulan Juni
dirahasiakannya
rintik rindunya
kepada pohon
berbunga itu
tak ada yang
lebih bijak
dari hujan
bulan Juni
dihapusnya
jejak-jejak kakinya
yang
ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang
lebih arif
dari hujan
bulan Juni
dibiarkannya
yang tak terucapkan
diserap akar
pohon bunga itu.
Analisis Puisi Hujan Bulan Juni
A. Berdasarkan
Tema
Tema
puisi Hujan Bulan Juni adalah Cinta terpendam yang tak terungkapkan. Tema
termasuk unsur ekstrinsik alasannya berkaitan dengan dunia di luar puisi yang
turut memengaruhi puisi. Baik dari segi penulis maupun pembaca puisi. Adapun
tema puisi Hujan Bulan Juni dapat dianalisis sebagai diberikut: Meskipun
cintanya tak sanggup diungkapkan, sang insan (hujan) tetap tabah, arif, dan
bijaksana. Membiarkan keadaan menghapus jejak (cintanya) di jalan
(kehidupan)nya. Karena beliau ragu hendak mengungkapkan atau tidak. Akhirnya
beliau (pencinta) membiarkan yang tak terucapkan tetap ada dan diserap melalui
akar pohon yang berbunga. Artinya, diserap dan diketahui secara
sembunyi-sembunyi (akar tersembunyi di dalam tanah) oleh perempuan (pohon
berbunga) yang dicintainya.
B. Berdasarkan
Tipologi
Tipologi
ialah unsur intrinsik karya sastra puisi. Tipologi berkaitan dan bentuk visual
sebuah teks puisi (sajak). Maka dari itu, menurut unsur intrinsik tipologi
puisi. Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono terdiri dari tiga
bait. masing-masing bait terdiri dari empat baris. Masing-masing baris tidak
lebih dari sebelas suku kata. Dari sini sanggup diketahui kekonsistenan bentuk
pusi Hujan Bulan Juni.
C. Berdasarkan
Diksi
Diksi
yaitu pemilihan dan penerapan kata dalam sebuah sajak atau puisi. Dilihat dari
diksinya, pilihan kata yang dipakai oleh Sapardi Djoko Damono yaitu kata-kata
yang bernas dan mengatakan kedalaman makna. Bernas maksudnya sangat mencakup.
Bukan kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari. Kata yang
sangat besar lengan berkuasa adalah tabah, bijak, dan arif. Ketiganya
dibandingkan dengan hujan yang terjadi pada bulan juni.
D. Berdasarkan
Majas / Gaya Bahasa
Majas
yaitu perumpamaan, atau gaya bahasa yang terdapat dalam puisi. Teknik
penyampaian maksud dengan mengambil perbandingan yang lain. Puisi Hujan Bulan
Juni memiliki dua majas. Majas yang paling tampak yaitu majas personifikasi.
Majas personifikasi yaitu pengorangan yang bukan orang. Maksudnya benda mati
atau binatang atau flora bertindak seakanakan menyerupai manusia.
Selain
majas personfikasi, juga terdapat gaya bahasa repetisi. Repetisi penuh terdapat
pada baris Dari hujan bulan Juni. Ketiga bait puisi tersebut mengandung baris
ini di baris keduanya. Selain repetisi penuh, juga terdapat reptisi pengulangan
sebagian baris yaitu Adakah yang lebih
E. Berdasarkan
Pengimajian / Citraan
Pengimajian
lebih gampangnya disebut sebagai seolah-olah. Jadi, jikalau pengimajian visual
adalah seolah-oleh melihat. Pengimajian indera pendengaran berarti seakan-akan
mendengar.
Adapun
pengimajian yang ada dalam Hujan Bulan Juni adalah pengimajian visual dan
pengimajian pendengaran.
•
Citra Pengelihatan (Imaji Visual) Merupakan citraan yang sangat mayoritas dalam
puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono ini. Masing-masing bait dalam
puisi tersebut, mengandung citraan pengelihatan.
“
Kepada pohon yang berbunga itu “
Kondisi
pohon yang berbunga dapat diketahui dengan indra pengelihatan.
•
Citra Pendengaran (Imaji Bunyi) Selain gambaran pengelihatan juga ada gambaran
indera pendengaran yang mungkin sanggup dilekatkan pada bait pertama, lebih
tepatnya pada baris:
“
Dirahasiakannya rintik rindunya “
Rintik
ialah suara yang sanggup ditangkap dengan indra pendengaran.
F. Berdasarkan
Rima / Irama
Rima
yaitu suara final atau persajakan. Dalam puisi ini, sanggup diidenfitikasi rima
yang terdapat berupa aliterasi, yaitu perulangan suara konsonan.
•
Perulangan suara /n/ terdapat pada baris
“
Hujan bulan Juni “
Masing-masing
kata dalam baris tersebut mengandung huruf /n/.
•
Perulangan bunyi /r/ terdapat pada baris:
“
Dirahasiakannya rintik rindunya ”
Masing-masing
kata tersebut adalah rahasia, rintik, dan rindu samasama dipertamai dengan
bunyi /r/.
•
Perulangan suara /r/ lebih terasa pada dua baris terakhir puisi Hujan Bulan
Juni diberikut ini:
“
Dibiarkannya yang tak terucapkan “
“
Diserap akar pohon bunga itu “
G. Berdasarkan
Nada
Nada
berkaitan bersahabat dengan perasaan. Salah satu cara mengungkapkan perasaan
dalam puisi yaitu memakai nada-nada tertentu. Nada puisi hujan bulan juni,
adalah kegetiran. Hal ini ditunjukkan dengan penerapan abjad /r/ yang
berulang-ulang. Pilihan kata yang dipakai juga mengatakan bahwa penyair
mengalami keraguan. Hingga kesannya menentukan membisu saja. Mencintai dalam
diam.
H. Berdasarkan
Perasaan
Perasaan
yang dimaksud yaitu perasaan yang melatar-belakangi penciptaan puisi. Bisa juga
dianggap melatar-belakangi pemaknaan puisi. Makara perasaan penyair atau
perasaan pembaca. Hal ini ialah unsur di luar puisi yang sanggup memengaruhi
proses penciptaan dan pemaknaan puisi. Perasaan penyair yang tampak dalam Puisi
Hujan Bulan Juni adalah perasaan orang yang sabar. Kesabaran yang sangat dalam
meskipun harus memendam rasa. Kesabaran tersebut tampak pada penerapan kata
tabah, bijak, dan arif. Kata-kata tersebut mengatakan sifat yang tidak
emosional. Dia juga ragu mengungkapkan perasaannya, kesannya dia menghapus
jejakjejaknya.
I.
Berdasarkan Amanat
Adapun
amanat puisi Hujan Bulan Juni adalah sebagai diberikut: • Semua orang harus
mempunyai sifat tabah, arif, dan bijak meskipun segala sesuatu tidak menyerupai
yang kita harapkan. • Tidak tiruana hal yang kita inginkan sanggup kita
dapatkan dengan gampang.Adapun amanat puisi Hujan Bulan Juni adalah sebagai
diberikut: • Semua orang harus mempunyai sifat tabah, arif, dan bijak meskipun
segala sesuatu tidak menyerupai yang kita harapkan. • Tidak tiruana hal yang
kita inginkan sanggup kita dapatkan dengan gampang.
Komentar
Posting Komentar